Serba-serbia Rapid Test, Swab, Gejala dan Perawatannya, Bagaimana Kita Menyikapinya?

Bagaimana Seorang Pelatih Renang Laut Dangkal Bisa Terpapar Kopit?

(Serba-serbia Rapid Test, Swab, Gejala dan Perawatannya, Bagaimana Kita Menyikapinya?)

Bagian Pertama

Publik (maksud saya konco-konco saya) mengenal saya sebagai figure yang peduli kebugaran. Bugar itu satu level di atas sehat. Anda dikatakan bugar manakala saat istirahat denyut jantung bisa efisien. Normalnya 60-100 bpm, kalo bugar mepet ke arah 60, kalo terlatih bisa 40-60.

Kalo bugar, saat di “drill” aktivitas fisik, begitu selesai cepat normal, bukan mulut “mangap-mangap” lidah nempel ke rongga bawah. Kalo di cek denyut cepet balik normal ke angka 60 an tadi.

Secara kasat mata, kalo Anda bugar, wajah Anda akan tampak berseri-seri, bersemangat, hingga pemain “forty plus” seperti saya pun masih banyak yang tersepona. Hingga saat saya masuk deretan laporan dinkes status confirm kopit (nama beken dari Corona Covid 19) banyak yang heran dan bertanya kok bisa?

Bagaimana ceritanya? Bukankah kalo tubuh bugar imunitas baik, kopit gak bakal berani sowan masuk? Keyakinan itu yang kini banyak kita temukan di masyarakat. Ulasan dibawah ini semoga bisa menjawabnya.

Anda Boleh Terlatih, Tapi Tidak Menjamin Anda Tidak Kecolongan

Sejak masih bujang pacaran 2005 (Banyak di ulas dalam serial Novel Gita Cinta dari Gadjah Mada) hingga kini saya sudah jadi member komunitas PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad) dengan performance yang stabil, artinya tidak pernah sekalipun saya bisa di temui di perantauan pada hari week end, pasti di kota asal.

Tidak terasa sudah berjalan 15 tahun (mungkin setara crew bis senior), pernah tinggal di 7 ibukota propinsi. Ini sekaligus memberi pesan bahwa saya “Family Man” menepis teori konspirasi “bermain hati, berbagi hati, ndoble di perantauan dsb.” Resiko nya satu: capek. Namun sebagai pelatih kebugaran, saya bisa ukur dan bisa beradaptasi.

Hari itu, Selasa tgl 21 Juli saya pindah kantor baru di salah satu kabupaten di Jawa Tengah, tiap hari PP dari kantor lama +/- 1,5 jam. Saya masih tinggal di kota yang sama dengan kantor lama. Beberapa minggu sebelumnya, memang kesibukan kantor meningkat sehingga cukup menguras tenaga & pikiran.

Dan saat itu saya paksakan 2x pulang kota asal dalam seminggu, hari jum’at malam (sabtu pagi balik) & minggu malam (senin pagi balik) (biasanya hanya 1x/minggu) karena hari minggu ada agenda di kantor. Intinya saya tidak mau mengurangi intensitas ketemu keluarga. Sekali lagi karena saya adalah “Family Man”

Bagaimana Awal Mula Gejala?

Kondisi capek, pindah kantor baru, proses adaptasi cukup menguras tenaga & pikiran, baik di dalam kantor maupun di lapangan. Waktu itu, saya merasa capek, kurang enak badan Hari kamis (hari ke 3 pindah kantor), tapi saya abaikan saya anggap lelah capek biasa.

Hari jum’at malam tgl 24 saya merasa demam. Saya sangat concern dengan kesehatan dan meyakini terhadap treatment medis. Kondisi pandemic seperti saat ini, membuat saya gak mau ambil resiko, Sabtu pagi saat saya ngantor, saya langsung test rapid di dekat kantor, (suhu badan waktu itu 37,4 kalo gak 37,8, hasilnya negative (non reaktif). Berbekal itu, Sabtu siang pulang ke kota asal.

Pas pulang “sambat”, mengeluh nggak enak badan ke istri, meriang, bilang kecapekan karena baru pindah kntor.

Saya suka dan merasa cocok (biasanya sembuh) dengan obat yang diberikan istri saya kalo kondisi meriang seperti itu. Seperti biasa saya minta di infuse hari Minggunya. Di foto obatnya warna strawberry itu (saya cuma “mbathin”, apap ini infuse milenial rass strawberry kok warnanya “eye catching” gak kayak umumnya). Sore sudah merasa enakan dan malamnya balik perantauan siap kerja lagi untuk besuknya.

Ternyata Senin meriang lagi (belum sepenuhnya sembuh), gak bisa makan, mual nyeri ulu hati, akhirnya pagi ke dokter, sorenya belum berkurang, pindah periksa dokter lain lagi malamnya. Kedua dokter diagnosanya ke arah, lambung, saluran pencernaan, seputaran itu yang saya tangkap.

Selasa agak mendingan. Rabunya gak kuat lagi, nyeri ulu hati, mual gak bisa makan akhirnya langsung pulang kota asal pengin opname, terus dibawa ke UGD, niatnya minta swab, tapi ternyata rapid non reaktif, jadi gak bisa swab, hasil lab normal semua hanya trombosit sedikit turun, trus dipulangkan karena tidak ada indikasi opname, dikasih obat minum untuk lambung.

Kamis masih blm membaik, blm bisa makan, masih demam, msh mual & nyeri ulu hati, minta infus lagi di rumah (saya punya perawat pribadi di rumah, hasil PJKA 15 tahun), di infus tapi jumat pagi belum enak badan akhirnya ke UGD lagi di RS yang berbeda dgn sebelumnya.

Hasil rapid non reaktif lagi (ini rapid test yang ke-3 dalam waktu 6 hari, di 3 tempat berbeda, 1 klinik, 2 UGD, metode ambil sampel darah mulai coblos jari hingga suntik tangan, semuanya non reaktif), hasil lab semua normal, awalnya dipulangkan juga (dalam artian di suruh rawat jalan karena indikasi medis tidak masuk kategori opname, tapi kita nego agar tetap minta opname dengan berbagai pertimbangan yang disampaikan diantaranya demam sudah 7 hari, dokter sudah ganti 4x, sudah masuk UGD 2x, dan riwayat perjalanan luar kota.

Kopit memang istimewa (akhirnya bisa swab)

Akhirnya bisa opname juga, awalnya kita minta ruang vip, dikonsultasikan dengan dokter spesialisnya, diputuskan masuk ruang isolasi karena ada riwayat demam & perjalanan dari luar kota. Sejak keputusan itu, saya menjalani perlakuan medis Kopit dengan status suspect. Lihat tim medis pake hazmat sempat bikin ngedrop mental, walau saat itu saya tidak pernah terbersit sekalipun bakalan naik status.

Masalah sempat muncul. Di ruang isolasi, kasusnya suspect covid, saat kita minta swab, tapi rapidnya negatif, ketentuan yang ada waktu itu, swab hanya dikelola dinkes kalau dari dinkes rapid positif (reaktif) baru bisa swab.

Kita sampaikan ke dokter bahwa swab mandiri tidak masalah, yang jadi masalah di kota ini tidak ada (tidak tahu dimana) swab mandiri. Akhirnya diupayakan dari Rumah Sakit agar bisa diikutkan swab dinkes, sama istri swab skalian dengan pertimbangan diatas. Akhirnya bisa swab, dapat jadwal hari Rabu (setelah 5 hari opname).

Bersambung….

Kopit memang istimewa

Terpapar virus yang belum ada obatnya bisa saja membuat runtuh mental siapa saja. Acapkali dalam ruang isolasi saya dengar pertanyaan “apakah ini bisa sembuh?” dalam posisi selang oksigen dan tubuh di tempeli berbagai alat control. Dalam gambaran saya, realtif tidak ada bedanya posisi pasien yang penuh alat control sama yang tidak ada keluhan sekalipun karena faktanya satu, virus ini belum ada obatnya. Kondisi itu bisa saja berbalik, karena apa? Karena belum ada obatnya.

Disini saya menangis, bukan hanya sekali, tapi nyaris setiap hari. Tiap lihat orang keluar ruangan, entah karena sembuh atau pindah alam. Tangisan makin kencang mana kala saya merasa kebugaran memuncak, lari pun kuwat, hasil swab masih juga positif. Trus, aku harus bagaimana, Apakah ini bisa sembuh?

Stres pun mulai tumbuh subur walau tak mengurangi kebugaran tubuh. Saya menduga kebugaran menghambat laju virus namun untuk menghilangkan virus menjadi negative swab, tingkat stress berperan. Sampe seberapa kuat kebugaran ini bisa bertahan menahan gempuran stress? Rasa was was mulai menyelinap manakala beberapa kali melihat pasien lain meninggal, sekaratul maut akibat gagal nafas, hingga melafadzkan takbir sedemikian memilukannya.

Jika keluarga memasrahkan seseorang masuk ke ruang isolasi pilihannya cuma 2: pulang sembuh atau mendo’akan di seputaran makam kelak setelah semua proses pemakaman selesai, tanpa pernah bisa melihat atau mendekat lagi. Sebuah pilihan yang memilukan. Bahkan mungkin tentara berangkat perangpun tidak sedemikian mengharukannya.

Jika pasien masih bisa menangis di ruang isolasi, bisa jadi dia ingat dosa, atau bisa jadi dia masih sedemikian sayangnya dengan dunia ini. Dihinggapi berbagai perasaan tidak menentu, saya coba ambil sikap bahwa “Saya tidak tahu pertempuran dengan virus ini kapan berakhir, tapi yang jelas harus dimenangkan”.

Jika kebugaran belum lagi efektif “menegatifkan” hasil swab, saya coba pendekatan lain untuk mengurangi stress. Di tengah hantu ketakutan dan rasa was was yang mencekam, apalagi yang bisa mengalahkan perasaan itu? Mau pasrah (tawakal) sama yang Maha Kuasa? Kalo level Anda masih bisa nangis di ruang isolasi, mungkin belum bisa pasrah yang sebenarnya.

Alhamdulillah, Allah masih mengijinkan saya untuk negative swab dan bisa lanjut isolasi mandiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *