Semua seharusnya punya akses keuangan


“Bisnis saya belum bankable, sulit untuk mendapatkan pinjaman”. Ini istilah yang sering banget terucap, ada yang sudah pakai kata tsb, ada yang belum namun maksudnya tersampaikan, sulit untuk mendapatkan pinjaman. Padahal ada banyak jenis dari LJK (Lembaga Jasa Keuangan) baik IKB ataupun IKNB, dengan kelebihan dan kekurangannya.
Jika kita bicara Bankable, umumnya ada 3 hal. Pertama SLIK harus bagus, kedua usaha sudah di atas 3 tahun (disini awal basis persyaratan LK minimal 3 tahun), ketiga memiliki jaminan (umumnya fixed asset tapi milih-milih), sebetulnya di Bank ada produk lain juga jika tidak ada fixed asset, namun memang harus diakui RAC (Risk Acceptance Criteria) Bank umum paling ketat.
Jika keluhan di fixed asset yang tidak terlalu strategis, bisa ke BPR, mereka lebih flexible mengenai kondisi fixed asset, namun rate lebih mahal, dan terbatas di area cover izin usaha-nya.
Sama juga selain ke BPR, atau jika tidak ada fixed asset, tapi ada jaminan lain, maka bisa masuk ke Perusahaan Pembiayaan (PP), jauh lebih flexible, bahkan ada yang bisa cover SLIK dengan kondisi coll yang tidak terlalu buruk dan usaha minimal 2 tahun. Hampir mirip, bisa menggunakan jasa Modal Ventura (MV) yang fokus di productive loan. Memang baik Bank, PP, MV semua memerlukan collateral sesuai dengan aturan di POJK.
Tapi jika tidak punya jaminan, maka sekarang sudah ada P2P Lending, jauh lebih flexible, ada yang bisa usaha dibawah 1 tahun sesuai risk appetite nya masing-masing, ada yang SLIK dengan coll buruk masih bisa absorb namun tentunya memiliki mitigasi resiko tersendiri. Ada yang skema baloon payment range rate 1-2.5% per bln, ada juga yang mudharabah. Secara umum RAC nya lebih fleksibel. Di luar itu, sebentar lagi SCF (Security Crowd Funding) juga akan bisa memberikan loan.
Memang benchmark dengan industri keuangan di negara lain, sudah ada beberapa skema produk yang belum populer di sini seperti growth financing, debt financing, equity financing, bahkan kombinasi ke 2 sampai 3 skema tsb (mezzanine etc)
Saya kembali benchmark di Korea Selatan, akses keuangan di sana sudah rapih, yes maybe masyarakat yang lebih sedikit, jadi lebih mudah diatur. Sedari awal, industri keuangan di Korsel sudah terbagi secara otomatis sesuai dengan segmen dan kapasitas dari setiap individu. Jadi si A dengan penghasilan sekian, akan langsung datang ke LJK yang ditentukan, si A sudah mengerti mana LJK yang memberikan support paling tepat dan maksimal. Misal si A ingin ambil kredit mobil, sudah ada LJK yang ditentukan sesuai dengan kapasitas A untuk memberikan pelayanan tsb.
Di Indonesia, harus diakui literasi dan inklusi keuangan masih relatif rendah, padahal semua orang berhak memiliki #akseskeuangan namun dengan kerja sama semua pihak, lambat laun semua orang akan memiliki #akseskeuangan

Leave a Reply

Your email address will not be published.