Mengenal Drone yang Tewaskan Jenderal Iran

Pada Jumat (3/1/2020) dini hari lalu, sebuah pesawat tanpa awak melepas rudal dan menghantam sebuah mobil yang tengah meninggalkan Bandara Internasional Baghdad, Irak.

Serangan itu menghebohkan dunia karena penumpang mobil yang tewas bukan orang sembarangan. Salah satu korban adalah Jenderal Qassem Suleimani, Komandan Angkatan Bersenjata Quds yang merupakan pasukan elite Garda Revolusi Iran.

Suleimani disebut-sebut sebagai orang terkuat kedua di Iran setelah Imam Besar Khamenei.

Korban lainnya adalah mitra dekatnya, Abu Mahdi al-Muhandis, komandan pasukan milisi Syiah Irak bernama Tentara Mobilisasi Rakyat atau Popular Mobilization Forces (PMF).

Para milisi PMF dan pendukungnya dituduh telah mengepung dan menyerang Kedutaan AS di Baghdad selama dua hari berturut-turut.

Kementerian Pertahanan Amerika membenarkan telah melakukan serangan tersebut, atas perintah langsung Presiden Donald Trump.

“Jenderal Suleimani secara aktif merencanakan serangan atas para diplomat dan staf Amerika di Irak dan seluruh kawasan tersebut,” bunyi pernyataan Pentagon. “Serangan ini ditujukan untuk mencegah rencana serangan oleh Iran di masa depan.”

Drone Tempur Amerika
Drone yang dioperasikan untuk serangan militer acap disebut sebagai unmanned combat aerial vehicles (UCAV).

Ada dua tipe utama UCAV modern yang pernah diproduksi dan digunakan oleh Amerika di era kini. Pertama adalah Predator yang kini sudah dipensiunkan, dan penerusnya yang jauh lebih besar dan lebih dahsyat adalah Reaper.

Menurut Guardian, drone yang dipakai untuk membunuh Suleimani adalah Reaper tipe MQ-9.

Reaper diproduksi oleh General Atomics yang bermarkas di California, menggantikan Predator sejak Juli 2017.

Menurut situs Angkatan Udara AS, Reaper mampu menempuh jarak 1.850 kilometer, mencapai ketinggian hingga 15.240 meter, dengan kecepatan jelajah 370 km/jam, dan kemampuan angkut 1,7 ton.

Sedangkan Predator hanya mampu mencapai ketinggian setengah dari kemampuan Reaper, jarak tempuh 1.240 km, kecepatan hanya 135 km/jam, dan daya angkut hanya 204 kg.

Reaper bisa mengangkut empat rudal sekaligus sementara Predator hanya bisa menggendong dua.

Senjata yang dibawa bisa rudal AGM-114 Hellfire atau bom dengan kendali laser GBU-12 Paveway. Harga Reaper, yang mampu terbang non-stop selama 14 jam, kurang lebih US$ 15,9 juta atau Rp 221 miliar.

Untuk memudahkan pengendalian, drone memang tidak dirancang sekencang pesawat tempur berawak yang mampu menembus kecepatan suara. Drone digerakkan dengan baling-baling tunggal, bukan mesin jet. Baling-baling terletak di ujung ekor, bukan di sayap seperti pesawat pada umumnya.

Operasi drone bisa dilakukan oleh pilot yang ratusan kilometer jauhnya. Pilot yang menghadap banyak monitor di depannya bukan hanya mengendalikan laju drone, tetapi juga mampu memilih sasaran, mengunci, dan melepas bom atau rudal dari tempatnya berada.

Reaper juga digunakan oleh sejumlah sekutu AS seperti Inggris, Spanyol, Prancis, dan Belanda.

Penggunaan drone untuk membunuh musuh-musuh Amerika mulai meningkat pesat sejak serangan teroris di New York dan Washington pada 11 September 2001. Drone-drone AS beterbangan memburu teroris di Pakistan, Afghanistan, Suriah dan Irak.

Kontroversi Drone
Amerika adalah negara yang paling getol menggunakan drone untuk menghabisi musuh-musuhnya, mengabaikan kecaman berbagai organisasi dan pegiat hak asasi manusia. PBB bahkan telah mengingatkan AS untuk mematuhi hukum internasional dalam penggunaan drone ini.

Pada delapan tahun era Presiden Barack Obama, AS telah melancarkan 1.878 serangan drone. Sementara itu pada dua tahun pertama era Trump sudah terjadi 2.243 serangan drone oleh AS.

Serangan drone kebanyakan ditujukan kepada teroris atau individu yang dinilai membahayakan keamanan AS atau warga AS dan dilakukan di luar zona peperangan. Akibatnya, banyak keluhan bahwa serangan itu juga menewaskan banyak warga sipil tak berdosa di luar individu yang menjadi “targeted killing”.

Pakistan misalnya, pernah mengadu ke PBB bahwa sedikitnya 400 warga sipil di negara itu tewas oleh drone AS.

Menghadapi tekanan internasional, Obama kemudian mengeluarkan aturan bahwa korban serangan drone harus dicatat dan diumumkan jika itu terjadi di luar zona perang. Namun pada Maret 2019, Trump mencabut aturan tersebut.

Sebagian orang menganggap serangan drone sebagai tindakan pengecut: membunuh lawan dengan remote control dari tempat yang sangat jauh dan bebas risiko balasan.

Usai serangan terhadap Suleimani, bahkan para politisi AS sendiri mengecam Trump karena bisa menempatkan negara itu di ambang perang besar dengan Iran dan makin mengguncang situasi geopolitik Timur Tengah yang belakangan sudah sangat panas akibat perang di Suriah, konflik Arab Saudi cs vs. Yaman, sengketa Arab cs. vs Qatar, dan rivalitas Arab dengan Iran.

Senator Chris Murphy dari Partai Demokrat mempertanyakan serangan itu.

“Apakah benar Amerika, tanpa persetujuan Kongres, telah membunuh orang terkuat kedua di Iran dan sengaja menyalakan potensi perang regional yang masif?” ujarnya.

Serangan drone sebetulnya bukan hal baru, karena sudah diterapkan Amerika saat Perang Dunia II pada 1944, dengan pesawat yang dikendalikan radio dan kamera televisi di hidung pesawat untuk membidik target sebelum bom dijatuhkan.

Konon, kata “drone” pertama kali dicetuskan oleh Komodor Delmar S. Fahrney dari Angkatan laut AS pada 1936. Saat itu, Fahrney bertugas menangani proyek pesawat dengan kendali radio dan dia menggunakan kata drone untuk perangkat tersebut.

Sumber: https://www.beritasatu.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *