Lebih Cermat Memilih Tawaran Property Syariah

Seminggu ini saya mendapatkan tawaran agresif investasi property baik apartemen maupun rukos, rumah kost di salah satu lokasi strategis kota pelajar . Waktu itu saya iyakan saja. Karena duit tidak cukup sekaligus untuk menguji reputasi proyek tersebut, saya minta KPR atau KPA.

Ternyata sales nya bilang masih belum bisa..Dia bilang lebih murah mengangsur ke developer..aman kok, akad di depan notaris..anti bank, anti riba sesuai syariah..Tidak ada BI checking , Tidak ada sita maupun denda, penalti dan sebagainya.

Saya bilang ya sudah, mana bangunan nya saya mau pilih unit..Dia bilang belum dibangun, kan baru ground breaking alias peletakan batu pertama..Nanti kalau sudah di bangun harga sudah mahal..ini mumpung masih murah, Senin sudah naik harganya…kalo mau lihat bentuknya , dia tunjukkan gambar 3 dimensi rencana bangunan nantinya…Begitulah biasanya penawaran dari salesnya.

Pertanyaan saya berikutnya, ya sudah saya minta legalitasnya…
Ada pak…ini company profil..proyek yang sudah dikerjakan sebelumnya…

Ya sudah saya tanya brosurnya saja mana…ada tidak mencantumkan IMB?
Mohon maaf, IMB belum keluar pak..tapi pasti keluar kok…

Kesimpulan:
Akad di depan notaris untuk kondisi diatas masih sebatas perikatan jual beli alias pesan beli..kalo mangkrak misal IMB gak keluar atau developer bangkrut, pembeli bisa apa? Akad di depan notaris teorinya adalah alat bukti yg sempurna di pengadilan…tapi sekuat apa mau berperkara? Saya pernah ngalami..akhirnya cuma pasrah…duit ilang

Bank adalah pihak yg paling berkompeten (powerful) untuk memastikan kredibilitas developer..kalo mau aman tanya saja, kalau mau KPR sudah ada yang realisasi? Walaupun prakteknya Anda nantinya belinya tunai/cash. Tapi untuk menguji reputasi proyek adalah dengan menanyakan bisa tidaknya KPR bank.

Kalo proyek properti tidak bisa KPR Anda layak curiga, dan lebih teliti walau dia bisa tunjukkan proyek sebelumnya yang sukses..

Proyek bermasalah pasti tidak berani masuk ke bank..bahasa marketing yang paling powerful dan biasanya digunakan untuk mengelabuhi ketidaksempurnaan proyek (biasanya dari sisi legalitas) adalah “sesuai syariah”..”tidak pakai bank”..Tapi bisa jadi itu adalah “kamuflase” untuk menutupi legalitas yang belum lengkap atau bahkan lebih ekstrim mengambil keuntungan atas praktek jahat yang direncanakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *