Jual Beli Property System “Syariah”, Apa Keuntungan dan Resikonya?

 

Syariah dalam tanda kutip yang dimaksudkan disini adalah jual beli property hanya dua pihak, penjual dan pembeli tanpa bank (baik bank syariah amupun konvensional) atau pemilik modal lainnya. Model seperti ini kian marak. Seolah lebih simple praktis mudah dan murah. Sesuai syariah pisan. Enak kan? Benarkah demikian?

Praktek jual beli seperti itu sering kali menyisakan satu jurang kendala yang tajam namun coba ditutupi dengan tirai hingga tampak indahnya saja. Apakah itu? Penjual tak punya duit cukup untuk menyelesaikan produk dagangannya sampai layak jual sedangkan pembeli juga tidak punya duit cukup untuk membeli produk secara tunai. Bisa nggak terjadi jual beli kondisi seperti itu tanpa bantuan pihak lain? Ini yang harus di waspadai.

Bagaimana kita selaku pembeli merasa aman bahwa property yang kita beli memang legal untuk dijual?

Cara paling mudah untuk dilakukan adalah dengan menanyakan apakah bisa KPR bank? Jika bisa berarti aman, karena legalitas sudah di cek oleh pihak bank. Sedangkan jika tidak bisa maka perlu hati-hati. Ada resiko pada kondisi seperti itu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Apakah sertifikat sudah posisi split,
  2. Jika belum, kapan akan di split, apakah nunggu laku semua atau tidak
  3. Jika system in house (angsuran ke developer) apakah ada Perjanjian Perikatan Jual Beli dengan akta notaries atau tidak
  4. Jika ada PPJB, posisi sertifikat disimpan dimana, idealnya di notaries. Jika masih dibawa developer ada resiko di dalamnya walaupun sudah ada ikatan PPJB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *