Inilah Kriteria Investasi Halal Menurut MUI

Hingga kini, Indonesia merupakan negara muslim terbesar dunia. Berdasarkan data Globalreligiusfuture, penduduk Indonesia yang beragama Islam pada 2010 mencapai 209,12 juta jiwa atau sekitar 87% dari total populasi. Kemudian pada 2020, penduduk muslim Indonesia diperkirakan akan mencapai 229.62 juta jiwa. Walau bukan negara Islam, mayoritas muslim ini membawa implikasi pada kehidupan masyarakatnya yang menghendaki produk halal menjadi kebutuhan yang krusial, tak terkecuali perihal investasi.

Ilustrasi investasi syariah menurut MUI

Bagaimana sebuah investasi dikatakan halal? Apa saja syaratnya?

Halal artinya transaksi (aktivitas muamalah) tersebut diizinkan berdasarkan hukum Islam yang dikenal sebagai “syariah”. Investasi syariah adalah produk keuangan yang dianggap patuh atau memenuhi syarat terhadap aturan syariah. Secara prinsip, investasi halal itu ada 3 syarat yaitu:

  • Halal dzat-nya
  • Halal prosesnya (cara perolehannya)
  • Halal hasil atau manfaat yang didapat
    Fatwa DSN MUI tentang investasi syariah

Instrumen investasi syariah sudah semakin lengkap saat ini. Infrastruktur syariah pun menjadi pondasi yang penting demi menjaring investor syariah yang ingin menanamkan uangnya di pasar modal Indonesia. Mengantisipasi hal ini, Dewan Pengawas Syariah Majelis Ulama Indonesia sudah menyiapkan fatwa terkait investasi syariah tersebut. Fatwa tersebut tertuang dalam fatwa nomor 124/DSN-MUI/XI/2018 tentang penerapan prinsip syariah dalam pelaksanaan layanan jasa penyimpanan dan penyelesaian transaksi efek serta pengelolaan infrastruktur investasi terpadu.

5 Jenis Investasi Halal Menurut MUI

Dengan melihat syarat investasi halal di atas, bisa dijabarkan lebih lanjut beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memilih sebuah produk investasi berlabel syariah:

  • Tidak mengandung unsur riba, sebagai gantinya digunakan sistem bagi hasil dengan sistem pengelolaan yang terbuka.
  • Tidak mengandung unsur-unsur haram, misalnya saja tidak mengandung babi, alkohol, atau mengandung unsur penipuan.

Bagi yang masih sulit membayangkan, maka bisa kita simak produk investasi syariah yang sesuai fatwa MUI berikut ini:

1. Investasi berbentuk properti

Investasi dalam bentuk properti paling mudah dijalankan sesuai syariat islam. Hanya saja butuh modal besar. Hasilnya juga bisa dipastikan akan selalu naik, namun likuiditasnya memang rendah, alias tidak mudah menjualnya. Ada solusi untuk masalah ini yaitu disewakan. Investasinya jelas dan tidak ada riba. Syaratnya harus beli tunai atau jika KPR menggunakan bank syariah.

investasi syariah properti

2. Investasi dalam bentuk emas

Jika ingin model investasi yang mudah dicairkan atau dijual, maka emas paling cocok untuk diambil. Harganya juga cenderung stabil dan selalu naik secara progresif dari tahun ke tahun. Sebaiknya jangan investasi emas yang sudah berbentuk perhiasan, karena banyak tergerus biaya proses. Solusinya adalah investasi dalam bentuk emas batangan yang bisa dibeli di Antam atau Pegadaian.

3. Investasi dalam bentuk deposito bagi hasil

Deposito halal sesuai syariah Islam selama diterbitkan oleh bank syariah. Yang membedakan dengan deposito konvensional adalah mengenai proses penetapan keuntungan. Deposito syariah menggunakan sistem bagi hasil yang menyesuaikan dengan keuntungan bersih pengelolaan dana. Sedangkan deposito konvensional, bunga yang sudah ditentukan di awal pembukaan deposito.

4. Investasi dalam bentuk reksadana syariah

Reksadana juga dianjurkan secara syariah karena modal yang ditanamkan dikelola secara produktif dan dikelola secara transparan. Syaratnya tidak ada unsur riba dalam prosesnya dan tidak ada unsur non-halal dalam proses pengelolaannya.

ilustrasi investasi

5. Investasi dalam bentuk SBSN (Surat Berharga Syariah Negara)

Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN adalah obligasi atau surat utang yang diatur menggunakan metode syariah. Hal ini sekaligus menjamin bahwa surat yang diperjualbelikan tidak ada unsur (terbebas dari) jual-beli produk haram. Salah satu jaminannya adalah dalam proses penyerahannya, data yang diberikan haruslah transparan.

Bagi masyarakat yang ingin “hijrah”, salah satu yang bisa dimulai adalah melakukan aktivitas muamalah sesuai syariah, salah satunya adalah dengan memulai investasi pada produk investasi syariah sesuai fatwa MUI diatas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *