INFINITE GAMES ; CARA MAIN ALTERNATIF

Oleh : Rendy Saputra

Konon hari ini kita masuk kedalam era bisnis yang VUCA.

Volatility nya tinggi, kecepatan perubahan teknologi mendorong kecepatan perubahan perilaku manusia. Akhirnya cara market hidup berubah dan pilihan produknya pun berubah.

Uncertainty nya naik, karena perubahannya cepat, ketidak pastiannya jadi meningkat. Hari ini kita melihat perusahaan besar travel yang hidup puluhan tahun harus tumbang gegara hadirnya platform penjualan tiket travel online. Makin gak pasti.

Complexity nya meningkat. Jika dahulu cukup melihat dashboard sales dan jumlah pelanggan, sekarang makin banyak variabel yang harus dibaca. Karena setiap orang bisa bisnis. Setiap orang bisa masuk dalam market Anda. Panel pembacaannya jadi makin kompleks.

Dan yang terakhir adalah Ambiguity. Tidak ada kaidah satu tafsir dari kejadian apapun yang terjadi hari ini. Semua bisa punya makna ganda. Membacanya pun harus cermat dari berbagai sisi. Itulah keadaan hari ini.

Itulah VUCA. Volatile, Uncertain, Complex, Ambigu.

***

Ditengah karakter habitat yang teramat VUCA, yang perlu kita lakukan sebenarnya bukan menghujat keadaan, tetapi bagaimana merespon keadaan. Karena habitat VUCA ini sudah given. Kita memang hidup di zaman ini. Tinggal bagaimana merespondnya.

Hari ini Saya menemukan referensi buku yang cukup menarik perhatian. James Carse menulis sebuah buku “Finite and Inifinite Games ; A vision of life as play and possibility”

Inti isi buku Carse sederhana,

Ada yang namanya Finite Games, permainan terbatas. Sebuah cara main yang punya garis finish. Punya batasan capaian ukuran kemenangan. Ada menang dan kalah.

Sementara disisi lain ada yang namanya Infinite Games. Sebuah cara main yang memfokuskan diri pada keberlanjutan, daya tahan, dan bagaimana agar terus dapat bermain dalam jangka waktu yang tak terbatas.

Jika kita mendaki gunung, meniatkan ke puncak Mahameru, maka ujungnya jelas. Sampai ke puncak. Setelah sampai. Kita menang. Kita berhasil menaklukan batas diri kita. Lalu kita pulang.

Sementara jika kita melakukan eksplorasi di barisan pegunungan Alpine misalnya, kita harus memilili ethos untuk menjelajah terus menerus. Selalu ada gunung yang harus selalu dijelajah.

AS menginvasi Vietnam. Kita tahu ujung ceritanya. AS harus pulang. Vietnam berhasil membuat Amerika frustasi di Vietnam. Perang panjang tak berkesudahan. Alasannya sederhana : AS menerapkan finite games, Vietnam harus takluk. Sementara pasukan Vietnam menerapkan cara main yang berbeda :

“ya sudah kita perang, kita lihat sampean tahan sampai kapan, kita akan buat perang ini panjang”.

Vietnam menerapkan Infinite Games.

Hitler dan Stalin akhirnya perang. Jerman lawan Russia, walau sebelumnya mereka bekerjasama dalam membelah Polandia, akhirnya mereka saling serang.

Hitler menerapkan finite Games. Pokoknya Russia harus takluk, harus masuk peta Jerman. Titik. Jutaan pasukan Jerman dimobilisasi menuju Soviet. Sebuah kampanye perang terbesar sepanjang sejarah. Melewati musim dingin yang menusuk, lumpur, hutan, hingga sungai-sungai.

Stalin di sisi lain menerapkan infinite games. Pasukan merah memakai mode perang panjang. Mereka sengaja menahan serangan tentara Nazi dalan jangka waktu yang teramat panjang. Hingga akhirnya Jerman kelelahan, kehabisan bahan makanan, kedinginan, mental jatuh, kocar-kacir.

Para Jenderal meminta izin kepada Hitler untuk menarik pasukan. Re-group, atur kembali serangan. Tetapi Hitler yang sudah terbius kemenangan-kemenangan kecil sebelum itu, memaksakan kehendak agar pasukan nya tidak mundur sama sekali. Bertahan. Kita semua tahu ujungnya, pada 1945 pasukan merah berhasil mencapai bunker Hitler di Berlin. Tragis.

***

Hari ini kita memasuki kompetisi yang sebenarnya tidak begitu penting kita fikirkan. Kita berfokus menjadi nomor 1 yang sebenarnya nomor 1 itu tidaklah begitu jelas ukurannya. Apakah sales, aoakah jumlah karyawan, apakah kemampuan create cash, apakah ketenangan batin?

Saya punya sahabat baik yang membangun bisnis. Besarannya puluhan M sales per bulan. Saat dia bertemu dengan sahabat pengusaha lainnya yang besarannya ratusan M per bulan, beliau berkata santai kepada Saya.

“Tenanglah kang, Saya masih umur masih 27 gini, insyaAllah nanti di usia 30 Saya naik perlahan, yang penting sekarang bangun yang ada dulu, sambil optimasi modal.”

Ada spirit infinite games. Dan memang sahabat Saya yang satu ini infinite banget. Perluasan bisnisnya garang kemana-mana. Arahnya adalah sustainibility. Kestabilan organisasi. Dari karyawan 7 orang, sekarang hampir 300 orang, dengan 10.000+ lebih jejaring penjualan.

Maka, yang lebih penting dari berkompetisi dengan pihak lain, adalah berkompetisi dengan diri sendiri. Bagaimana membangun kualitas produktifitas yang terus menerus baik dari hari ke hari. Lebih baik. Lebih berkualitas.

Kesibukan kita melihat orang lain adalah jebakan distraksi yang membuyarkan fokus kita. Kita lelah mengejar kualitas orang lain. Kita lelah mengejar capaian orang lain. Gerak bisnis dipacu pada capaian tetangga. Akhirnya kita lupa dengan anak tangga yang harus ditapaki.

***

Demikian catatan bisnis Saya hari ini. Tidak semua pendapat diatas benar. Setidaknya ada semangat kecil di hati Anda hari ini, bahwa tugas kita hari ini adalah berfikir agar bagaimana kita terus bermain. Bermain dalam satuan waktu yang panjang. Itu yang penting.

Terutama bagi Anda pebisnis pemula yang mulai mengernyitkan dahi ketika melihat seorang mastah bisa berjualan 75.000 pcs produk dengan margin 30rb an.

Tenang saja. Bukan kompetisi Anda. Kompetisi Anda hari ini adalah bagaimana mencetak cash profit lebih banyak dari hari kemarin. Itu dulu.

Selamat bermain.
Selamat membangun daya tahan.
Selamat melintasi berbagai zaman.

KR Business Notes
Selasa, 1 Januari 2019

***

Tulisan yang beredar via Grup WA KR Business Notes terbuka untuk disebar luaskan melalui akun sosmed Anda, dan berbagai grup WA lainnya.

Ajak sahabat Anda untuk berlangganan KR Business Notes dengan ketik WA “Join KR Biz Notes” kirim ke 085220000122

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *