Category Archives: Blog

Jasa Penulis Artikel

Jasa Penulis Artikel – Membuat konten untuk blog atau situs biasanya merupakan masalah bagi Anda yang bergerak di bisnis online.
Sementara jika menulis sendiri tentu memerlukan waktu yang tidak sedikit, apalagi untuk Anda yang memang tidak terbiasa dengan aktivitas membaca dan menulis hal itu pastilah sangat menjemukan.
Sementara Anda sebagai pemilik bisnis atau website memerlukan fokus untuk hal-hal lainnya seperti pengembangan bisnis, marketing, customer service, dan lain sebagainya.
Dan… mencari penulis professional, terlatih, dan memiliki jam terbang yang cukup juga tidak mudah.
Salah-salah meng-hire penulis untuk mengisi konten pada situs Anda, uang sudah keluar banyak namun hasil yang diharapkan tidak sesuai harapan. Barangkali, karena konten yang disajikan tidak sesuai, atau jauh dari standar kualitas yang seharusnya.
Mari kita sudahi keruwetan yang membuat Anda sakit kepala tersebut.
Anggap saja dengan menyerahkan urusan konten artikel kepada kami, masalah Anda terselesaikan.
Anda Publisher yang memonetize situs Anda dengan program periklanan Pay Per Click Adsense, atau Impresi seperti Tribal Fusion?
Anda pemilik bisnis toko online yang memasarkan produk-produk fesyen, gadget, herbal, dan lain sebagainya?
Atau Anda pemilik jasa yang menawarkan jasa seperti jasa desain interior, jasa angkut barang, jasa penulis artikel, fotografi, jasa seo, jasa membuat website, dsbg?
Maka Anda tidak perlu bersusah payah bagaimana menaikan pengunjung web Anda. Untuk konten berkualitas serahkan kepada jasa penulis artikel profesional, sementara Anda dapat fokus untuk mengembangkan bisnis.
Ayo, beritahukan apa yang Anda inginkan untuk website atau bisnis Anda… Kami berikan solusinya.
Kami berikan PENULIS ARTIKEL TERBAIK dengan KONTEN BERKUALITAS untuk Anda.
Traffic?
Leads?
Sales atau Konversi?
NO PROBLEM
Biarkan penulis terbaik kami bekerja untuk Anda.
traffic website

Penulis Artikel kami memiliki kecakapan:
Memahami berbagai macam gaya penulisan (story telling, review, news, feature, dll)
Menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD
Pandai menyunting tulisannya sendiri, baik secara substansial (isi) maupun teknikal (ejaan, tanda baca, dsbg)
Untuk bahasa Inggris, selain menguasai grammar juga menguasai istilah/idiom yang biasa digunakan dalam bahasa tersebut.
Penulis handal pasti rajin membaca buku, aktif berkomunitas, membaca berita, dan bersosial media.

Murah atau mahal?
Sama halnya dengan membeli sebuah produk atau barang tertentu. Harga tidak akan pernah membohongi. Jika kualitas barang dan materialnya bagus, pasti harganya pun lebih mahal. Namun sebaliknya jika harganya murah, barang atau produk tersebut kualitasnya pasti KW, di bawah standar.
Jika ingin mendapatkan kualitas konten terbaik dengan penulis profesional pilihan, maka harga jasa penulis artikel di penulispro.net adalah jaminan mutu.
Kami pastikan Anda mendapat layanan terbaik yang belum pernah Anda dapatkan sebelumnya. Para penulis terbaik dengan kualitas tulisan di atas rata-rata. We don’t compromised with quality!
Konten berkualitas adalah aset bisnis Anda. Jangan ditunda, jadilah selangkah lebih maju dari kompetitor.

Mengosongkan Tangki Harapan Dunia

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Salah satu hal membuat kita berhenti melangkah adalah kekecewaan. Andai seseorang mampu melangkah lebih tekun, insyaAllah ia akan perlahan mencapai apa yang ia tuju. Namun biasanya, hambatan dan ketidak sesuaian di lapangan membuat kita kecewa, marah, kesal, lalu berhenti melangkah.

Kekecewaan ini lahir karena sebuah pengharapan. Besarnya harapan berarti besarnya potensi kekecewaan. Makin besar harapan, makin besar potensi kekecewaan yang kita tanam.

Ada yang menarik pada hadist pertama di arbain an nawawiy. Hadist tersebut berbicara tentang niat. Secara sederhana, potongan hadist tersebut berbunyi seperti ini : “siapa yang hijrah karena wanita yang ingin dinikahinya atau perdagangan yang didambakan, maka ia akan mendapatkannya. Dan barangsiapa yang hijrah karena Allah dan RasulNya, dia akan mendapatkan Allah dan RasulNya.”

Hadist tersebut berbicara tentang sebuah dorongan harapan. Kepada siapakah kita sebenarnya berharap. Risalah nabawi tersebut mendidik kita untuk keluar dari harapan kepada dunia, menuju harapan kepada Allah semata. Karena jika Allah sudah hadir, sebenarnya dunia masalah yang tidak terlalu rumit.

Inilah esensi ikhlash. Asal kata dari murni, tak bercampur dengan yang lain. Jika memang semua karena Allah, maka kita harus membersihkan hati kita dari harapan kepada selainNya.

***

Waktu kita berjualan, secara manusiawi kita akan berharap bahwa dagangan kita terjual. Harapan tersebut terkadang berbuah kekecewaan manakala dagangan kita tidak laku. Bersyukurlah jika kita dapat mengatasi kekecewaan itu.

Namun dibanyak kesempatan, beberapa orang tidak dapat mengatasinya. Sikapnya langsung melemah, layanan kepada customernya langsung memburuk dan terus banyak mengeluh.

Berjualanlah dengan tangki berharap yang kosong. Jika kita berjualan, cukuplah berharap Allah senang dengan usaha kita, berarti kita mau bekerja, mau berbuat untuk sesama. Ketika berjualan, berarti kita sedang membantu orang untuk mencukupi kebutuhannya, atau menghadirkan solusi ke dalam kehidupannya. Jika ia tidak berkenan, cukuplah ridho Allah jadi jalan terbaik untuk kita.

Berjualan dengan zero expectations akan lebih memberi energi yang konsisten dan kontinu. Ada yang beli kita bersyukur, ditolak pembeli pun kita bersyukur. Apapun respon pembeli, hal itu tidak akan menurunkan kualitas diri kita.

***

Melayani customer, layani saja sepenuh hati, tidak perlu berharap dia belanja banyak, atau belanja lagi, target KPI boleh boleh saja ada.

Layani dengan baik, karena sejatinya melayani orang itu ibadah. Mencarikan barang yang dia perlukan berarti menolong. Membantu menjelaskan produk jasa berarti memahamkan. Pasti berpahala. Pasti dibalas Allah.

Tidak perlu berharap dia tekan tombol “smile” di pengukuran kepuasan pelanggan. Bisa jadi yang dilayani baik malah membentak. Jika dia membentak, kita sudah aman : harapan kita bukan senyumannya, harapan kita senyuman Allah saja. Cukup.

**

Menjadi seorang istri yang mengabdi kepada suami. Cukuplah pengharapan hanya kepada Allah. Lakukan pengabdian agar Allah sayang kepadamu, mencintaimu, memberkahimu, janganlah pernah berharap apapun dari suami. Tak perlu berharap dia semakin cinta, dia semakin sayang, dia menjadi setia, sungguh, hanya Allahlah yang pantas diharapkan. Suami itu manusia. Tiada yang menjamin konstan nya kesalihan manusia.

Jika Allah ridho, semoga Allah menurunkan cinta ke hati suami. Suami jadi sayang. Jika Allah ridho, semoga Allah menurunkan kesetiaan di hati suami, suami jadi setia.

Namun jikalau suami ternyata tidak begitu, tidak cinta, tidak sayang bahkan tidak setia. Kekecewaan kita kan biasa saja. Karena sedari awal, bukan itu yang kita harapkan.

Sekali lagi. Mengabdilah tanpa harapan dunia. Berharap saja pada yang pantas diharapkan. Dialah Allah yang tak pernah lengah melihat pengabdian seorang istri kepada suaminya.

***

Menjadi pekerja, berharaplah pada keridhoan Allah semata. Gaji boleh saja ada. Bonus boleh saja tersedia. Namun janganlah hati berharap pada gaji dan bonus semata. Janganlah jua berharap pada jenjang karir yang mempesona.

Berharap pada gaji, bisa saja menyakitkan. Bisa saja hati menyadari, bahwa ternyata kerja yang telah diabdikan ternyata tak berimbang dengan gaji yang diterima. Sakit nantinya.

Berharap bonus juga berbahaya, bisa saja bonus tiada, bisa karena pasar yang melambat, produksi yang tertahan, atau malah karena kejadian alam yang ada diluar kendali kita. Stress jadinya.

Berharap naik jabatan juga nestapa. Bisa saja manusia salah menilai. Salah memberi apresiasi. Bisa saja tidak naik jabatan. Jika hati banyak berharap, nanti banyak kecewanya. Frustasi jadinya.

Bekerja saja untuk dilihat Allah. Selesaikan jobdesc atas tanggung jawab kita sebagai pekerja yang merasa dilihat Allah. Kejar Key Performance Indicator (KPI) agar perusahaan bertumbuh, jika perusahaan bertumbuh, akan banyak yang sejahtera. Perusahaan jadi bisa terus bertahan, bisa bayar gaji karyawan, bisa terus berjalan, semoga Allah menilai baik kontribusi kita. Biarlah Allah yang membalas kerja-kerja kita. Pasti Pas! Bahkan lebih dari yang kita kerjakan.

***

Jadi pembicara, tak perlu berharap orang menangis tersentuh. Nanti jika tidak menangis, anda yang malah menangis. Tidak perlu berharap orang berubah, tergerak, lalu mengucap terima kasih ke Anda.

Berbicara kebaikan, niatkan saja untuk jadi jalan kebaikan banyak orang. Niatkan menolong orang memahami kebaikan. Dan berharaplah Allah suka, Allah senang, Allah ridho.

Andai ada yang tidak faham, tidak mengerti, evaluasi diri kita. Perbaiki metodenya. Tapi tak perlu kecewa, hati milik Allah.

Hati Allah yang genggam. Hidayah Allah yang punya. Tiada kita punya kemampuan untuk menggerakkan hati manusia. Kita hanya seksi bunyi-bunyian saja.

***

Jadi penulis, (aduh, saya banget ini), gak usah berharap di like, di share, di comment. Tulis saja yang baik, yang tulus. Jika memang baik, nanti juga di like. Jika manfaat, insyaAllah orang akan share.

***

Sekian yah. Mengajak diri sendiri dan sahabat pembaca semuanya, untuk sama-sama mengosongkan tangki harapan dunia. Mari sama-sama putus harap ke dunia, mari sambung harapan hanya ke Allah semata.

Berharaplah pada yang memang Maha Membalas. Yang paling benar perhitungannya. Paling benar ukurannya. Pandangan Allah gak bakal luput. Dia tau seberapa banyak tetes keringat yang digiatkan. InsyaAllah. Lurus harap kepada Allah saja.

KR Business Notes
Senin, 25 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

BESARAN SASARAN

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****
Tidak ada yang salah pada besaran SASARAN.

Goal yang besar dan besar banget adalah pilihan…

Yang menjadi masalah adalah… ketidak sesuaian antara GOAL dan TINDAKAN yang dilakukan…

Jika GOAL nya 10 ton, maka perilaku nya harus 10 ton, kedisiplinannya harus 10 ton, konsistensinya harus 10 ton, cara bekerjanya harus 10 ton… sesuai.. layak.. dan pas…

Maka janganlah meng-EDIT sasaran, tetapi EDIT-lah aksimu di lapangan…

Ketika ada orang-orang yang meragukan mimpi Anda.. atau kemudian bertanya-tanya tentang bagaimana Anda mewujudkannya.. sebenarnya itu adalah kasih sayang dari Allah.. agar Anda berfikir dan berjuang keras mewujudkannya…

Setiap pertanyaan yang menguji mimpi adalah small test.. Anda sedang dipaksa Allah untuk berfikir.. mencari jawaban.. dan merancang semua skenario…

Jadi gak usah baper kalo ada yang meragukan.. merendahkan.. atau bertanya-tanya sinis.. sahabati.. dekati… jadikan sahabat yang mendorong untuk berfikir…

Begitu ya..
Serius kalo punya mimpi…
Persistance…

Semoga manfaat….

Share jika SETUJU

KR Business Notes
Ahad, 24 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

Hidup Pra Bayar atau Paska Bayar

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****
Seperti penggunaan pulsa telepon, ada yang beli pulsa dulu, membayar didepan, lalu mendapatkan sejumlah detak pulsa dan kuota untuk berkomunikasi. Setelah dipakai, perlahan habis. Habis pulsa, stop sms dan voice. Habis quota, ya gak bisa online. Sederhana.

Ada juga yang memilih paska bayar, bayar belakang. Pake dulu sepuasnya, telepon dulu sepuasnya, go online sepuasnya, download upload ini itu, diakhir bulan datang tagihan, kalo ada uangnya ya terbayar, kalo gak ada ya jadi hutang.

Dalam kehidupan, kedua hal ini adalah pilihan gaya hidup. Ada yang memilih membayar didepan lalu menikmati kemudian, lalu ada yang memutuskan untuk menikmati dulu baru bayar kemudian.

Mereka yang ngumpulin uang untuk beli asset secara tunai adalah mazhab pra bayar, mereka yang memilih ngontrak atau menyewa dahulu adalah mazhab pra bayar. Bayar dulu, lalu nikmati fungsi benefitnya.

Sementara mazhab paska bayar memilih untuk membeli dengan pola bayar tempo. Bayar uang muka dulu, lalu mencicil kemudian. Setelah kenikmatan didapat diawal, kedepannya, kita akhirnya harus membayar dibelakang.

Dalam proses perjuangan pun demikian, siapa yang mau bersantai-santai dalam membangun bisnis : tidak mau belajar, tidak mau membangun organisasi dengan serius, tidak mau riset, tidak mau berlelah-lelah : mereka akan membayar di belakang. Walau omset dan profit besar di awal-awal.

Namun bagi mereka yang membayar harganya didepan : mereka yang tekun membangun organisasi, mereka yang tekun membangun manusia, mereka yang tekun berlelah mencari supplier terbaik, pasti akan ringan dikemudian hari.

Tulisan ini tidak memvonis mana yang benar dan yang salah. Apakah pra bayar atau paska bayar yang terbaik? Semua tergantung persepsi Anda. Saya hanya mengajak berfikir dan memahami.

KR Business Notes
Sabtu, 23 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

Value Formula

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Banyak pertanyaan berulang yang terjadi,

“Gimana ngalahin barang yang dijual lebih murah?”

“Gimana bikin pasar mau beli barang saya yang sedikit lebih mahal, tidak beli yang jelek?”

“Saya ngerasa value produk saya OK kok.. tapi kok gak ada yang beli?”

Dari beberapa pertanyaan diatas, penting rasanya bagi Saya hari ini, untuk menuliskan formula value dengan cermat.

***

“Pasar selalu memilih produk yang Value nya tertinggi, jika daya beli pasar tidak sanggup kepadanya, maka dia akan memilih harga paling rendah untuk Value yang diinginkan”

Yang dilupakan oleh pebisnis, Value adalah gabungan dari dua komponen unsur pembentuk : Benefit dan Price.

Jika produk A memiliki benefit bernilai 10, dan harganya 5, maka valuenya 2. Dan jika Produk B memiliki benefit 15 dan harganya 5, maka valuenya 3.

Pasar akan memilih produk B. Dengan harga yang sama, Pasar mendapatkan benefit yang lebih.

Contoh kasus berikutnya :

Jika produk C memiliki benefit bernilai 20 dan harganya 10, maka valuenya 2. Dan jika produk D memiliki benefit 20 harganya 5, maka valuenya 4.

Pasar akan memilih produk D. Dengan benefit yang sama, pasar dapat membeli produk D dengan harga yang lebih murah.

***

Jika Anda bersaing dengan pebisnis yang memiliki manfaat produk yang sama, maka persaingan akan masuk pada perang harga. Siapa yang bisa hadir lebih murah.

Pertarungan ini terjadi di pasar komoditas dan beberapa pasar dengan multi supplier. Semua bisa hadirkan barang dengan benefit fisik dan emosi yang sama.

Jika Anda ingin menghindar dari pertarungan tersebut, maka Anda harus berfikir untuk menambah benefit, baik benefit fisik maupun benefit emosi.

Semoga bermanfaat…

KR Business Notes
Jumat, 22 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

Belajar Bisnis dari Kisah Siti Hajar

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Atas tuntunan ilahi, Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah tak bertuan. Sebuah tempat yang gersang, tempat dimana Allah menetapkan “rumahNya” tersejak zaman Adam ‘alaihissalam.

Dalam keridhoan ketetapan Suami yang tertuntun langit, Siti Hajar harus melalui episode yang menegangkan dalam hidupnya. Sebuah episode kehidupan yang diabadikan Allah dalam peribadatan sa’i saat umroh. Sebuah episode kehidupan yang menjadi titik awal lahirnya sebuah peradaban di lembah gersang.

Ismail kecil menangis keras kehausan ditengah gersang. Sebagaimana seorang Ibu, hati Siti Hajar kalut dibuatnya. Matanya mencari-cari disekitaran gurun, namun tak ada tanda-tanda adanya air sedikit pun.

Di kejauhan terlihat adanya air, berlarilah Siti Hajar ke tempat tersebut. Shaffa, itulah bukit yang Ia daki. Sesampainya di bukit tersebut, tak sedikit pun air ditemukan, dirinya berdoa dan memohon kepada Allah, lalu kemudian menebar pandangan kesegala arah.

Terlihat air dari kejauhan. Siti Hajar pun berlari ke bukit yang lain. Marwah, itulah nama bukit tersebut. Sesampainya di Marwah, Siti Hajar tidak juga mendapatkan apa yang beliau cari.

Siti Hajar kembali berfikir, mungkin di bukit yang tadi, ia tidak teliti, kembalilah ia kembali ke bukit shaffa. Lalu ke marwah, lalu kembali lagi ke shaffa, lalu ke marwah, lalu ke shaffa dan ke marwah untuk terakhir kali.

Sesampainya di Bukit Marwah tuk kesekian kalinya, terdengarlah gemiricik air dari dekat tubuh Ismail ‘alaihissalam. Hadirlah mata air Zam Zam, yang tidak hanya menghapus dahaga Ismail kecil, namun juga dinikmati oleh generasi berikutnya sepanjang lintas peradaban. Hingga saat ini, mata air tersebut deras mengalir. Seakan menyediakan pasokan bagi para peziarah. Tak ada habis-habisnya. Tak ada kering-keringnya.

Episode kehidupan ini diabadikan oleh Allah dalam tuntunan ibadah Umroh. Setelah melaksanakan Thawaf, jamaah Umroh diwajibkan untuk melakukan Sa’i, dan diakhiri dengan tahalul.

***

Ada beberapa pelajaran bisnis yang dapat kita petik dari kisah Siti Hajar. Kita dapat belajar bagaimana seharusnya kita berikhtiar menghadapi masalah. Siti Hajar telah melalui hal yang sangat membuat kalut dirinya dan akhirnya solusi hadir bukan hanya untuk Ismail, namun juga untuk generasi setelahnya.

Sama seperti bisnis, terkadang kita kalut ketika “bisnis kita menjerit menangis”. Terkadang kita harus berlari-lari mencari cashflow. Terkadang kita melihat kegersangan market yang tak berujung. Mirip situasinya dengan apa yang dialami Siti Hajar. Maka tidak ada salahnya ketika kita mencoba mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Berikut beberapa pelajaran yang dapat kita ambil,

1. Sangka baik atas ketetapan Allah.

Sebelum kita memaknai usaha dari Siti Hajar, kita harus menyelami terlebih dahulu ruang hati beliau saat ditempatkan di lembah gersang. Beliau yakin, ini adalah ketetapan yang baik. Jika memang ini adalah ketetapan Allah, pasti baik. Walau secara kasat mata, beliau seakan ditinggalkan di lembah gersang tak bertuan.

Titik tolak sangka baik ini adalah energi dalam usaha Siti Hajar. Siti Hajar tidak marah kepada Ibrahim suaminya. Siti Hajar juga tidak kecewa dengan putusan Allah, mengapa Ia harus ditempatkan di lembah gersang. Fikiran dan hatinya tetap positif ke Allah. Allah pasti punya maksud dan pasti ada kebaikan pada keputusan ini.

Hari ini, mungkin sebagian Anda sedang mengalami kegersangan bisnis. Mungkin bisnis Anda sedang menjerit. Mungkin juga sebagian dari Anda sedang mengalami keterdesakan disana sini. Sebelum bergerak berusaha, alangkah baiknya kita cek hati kita, apakah ada marah di hati kita? Apakah hati kita sudah ridho atas apa yang terjadi hari ini? Apakah ada sangka baik di hati kita?

Banyak diantara kita yang berusaha dalam kemarahan, “seharusnya aku gak harus begini, kalo aku gak ketemu dia!”. Atau “aku kesel banget, gak perlu jadi begini kalo dia nurut sama aku!”. Atau “kok Allah tega banget ya, aku diginiin, apa salahku coba”.

Sangkal hati seperti diatas hanya akan membuat kita berputar-putar dalam labirin masalah. Sudah jatuh, tertimpa tangga, tertusuk paku. Sudah bermasalah, lalu kita marah kepada Allah. Repot.

Sahabatku, dengan penuh rasa empati, Saya tahu Anda kesal dan marah, tapi atas rasa sayang Saya kepada Anda, belajarlah dari Siti Hajar. Terimalah yang sudah terjadi, tatap masa depan, maafkan diri dan pihak-pihak terkait, lalu bergeraklah dengan lepas dan penuh energi positif di hati. InsyaAllah Anda akan menemukan Zam Zam Anda.

2. Berdoa, kemudian bergerak menunjukkan keyakinan.

Yang menarik dalam ibadah umroh, prosesi thawaf haruslah dalam keadaan wudhu, sedangkan tidak dengan proses Sa’i. Kode fiqh ini seakan menekankan aura “ikhtiar” didalam proses berlarinya Siti Hajar.

Apakah Siti Hajar tidak berdoa saat Ismail kecil kehausan? Ya pasti, dan rekam sejarah menunjukkan hal itu. Namun, apakah Siti Hajar berhenti di titik berdoa? Tidak sama sekali.

Siti Hajar berlari 7x track shaffa – marwah dan sebaliknya. Tidak satu atau dua. Namun 7x. Sebuah simbol ikhtiar yang tidak main-main. Menandakan usaha maksimal tanpa henti.

Sama seperti kisah Nabi Musa, jika keimanan dan amal hati saja cukup untuk menyelesaikan masalah, cukuplah keyakinan Musa bahwa Allah tidak meninggalkannya, harusnya lautan terbelah saat itu juga. Namun Allah memerintahkannya untuk memukul tongkat. Allah ingin melihat amal kita, aksi kita, perbuatan kita.

Demikian pula dengan Siti Hajar, beliau menunjukkan keseriusannya dalam membuktikan iman, bahwa pasti ada jalan keluar, maka dari itulah ia berlari.

Sahabat, aksikan yakinmu, aksikan doamu, aksikan rencana baikmu. Sekuat kamu bisa berlari, sebanyak apapun yang bisa kamu perbuat.

3. Tidak berhenti walau hasil tak terasa.

Pada awal-awal usaha pencariannya, Siti Hajar masih melibatkan fikiran logisnya, “mungkin Saya tidak teliti, Saya akan kembali lagi, siapa tahu ada air disana”.

Namun setelah usaha ke 4, ke 5 dan seterusnya, beberapa redaksi yang Saya baca (silakan didiskusikan jika berbeda pendapat), Siti Hajar hanya berlari, Ia hanya terus berlari, karena itulah yang ia bisa lakukan. Dari bukit satu, ke bukit yang lain, ia tidak lagi memikirkan, apakah ada atau tidak, ia hanya ingin bergerak mencarikan air untuk Ismail, ia hanya ingin menunjukkan kepada Allah bahwa ia terus bergerak. Ia tidak diam.

Sahabat, bisa jadi ada diantara kita yang pada hari ini sedang sangat kesulitan. Bisa jadi ada diantara kita yang sangat kebingungan. Usaha menawarkan produk hanya berujung gagal dan gagal. Seperti putaran proses yang tidak ada ujungnya. Dan sebagian diantara kita memutuskan untuk berhenti, sebelum keluarnya mata air “zam zam” yang kita cari.

Sahabat, Kolonel Sandres penemu bumbu KFC, harus menawarkan bumbunya ke 1000 lebih rumah, dan barulah diterima ke rumah yang ke-seribu sekian. Thomas Alfa Edison harus melakukan ribuan kali percobaan untuk menemukan lampu. Dan banyak lagi kisah konsisten diluar sana.

Sahabat, tidak ada hasil bukan berarti tidak ada progress. Seperti pohon bambu, dalam 3 tahun pertama, tidak ada pertumbuhan yang terlihat, tapi akarnya sedang bertumbuh kebawah, menghujam, menjadi pondasi. Setelah akar kokoh, barulah bambu tersebut melesat tumbuh.

Sama seperti kita hari ini, bisa jadi yang kita lakukan seperti jalan ditempat, tetapi disanalah Allah didik otot sabar kita, Allah didik otot syukur kita, Allah didik otot kerja kita. Sehingga Allah pantaskan kita untuk besar. Allah beri pondasi. Allah kader langsung. Ini yang jarang kita sadari.

Kembali ke poin bahasan, yuk terus jualan, ndak papa gak ada yang beli, bukan berarti gak ada hasil, ini proses agar Anda makin kuat. Jangan berhenti. Jangan melemah. Jangan pundung, mutung, merajuk.

4. Solusi yang hadir bisa saja tak berhubungan dengan ikhtiar.

Sahabat, tengok Siti Hajar, area pencarian airnya ada diantara shaffa dan marwah, tetapi air zam zam nya muncul di kaki Ismail didekat baitullah. Ya Rabb, tidakkah kita melihat kebesaran Allah.

Urusan kita itu bergerak, ndak usah pusing nanti “zam-zam” nya keluar dari mana. Jika ada jalan bergerak, jika ada jalan berikhtiar, bergerak saja. Sekiranya Allah sudah menilai kita bergerak maksimal, Allah sanggup keluarkan Zam Zam kehidupan kita, dari titik yang kita tidak sangka.

Banyak sebenarnya kita dengar cerita, sahabat kita menjual donat, bertemu dengan pelanggan yang menjual mobil, dan akhirnya mobilnya gak sengaja terjual di tangan penjual donat tersebut. Bayangkan teman, jual donat dan jual mobil itu jauh banget. Namun jika Allah berkehendak, jadi! Allah hanya butuh keseriusan Anda tuk terus berlari.

Maka, kalo memang pusing, bingung mikir jalan ikhtiar, ya bergerak saja. Ada kesempatan jadi relawan, yuk gabung. Ada kesempatan bantu teman jualan gorengan, ya sudah bantu. Ada diajak teman nemenin dia lihat peternakan, hayuk bergerak. Kita ini tidak pernah tahu dimanakah Zam Zam kita berada.

5. Yakinlah, ketika kesulitan itu teratasi, akan banyak orang yang kan mendapat manfaat.

Yang terakhir, agar kita termotivasi, marilah ingat dan yakini, bahwa Zam Zam yang akan memancar nanti di kehidupan kita itu, bukan hanya untuk menyelesaikan masalah kita saja, pasti ada manfaatnya bagi orang lain.

Ada sahabat Saya hutangnya 7,7M, sekarang sudah lunas. Karena usahanya yang gak berhenti-berhenti, akhirnya usaha produk digitalnya maju. Banyak affiliate yang dapat berkah. Karyawannya banyak. Mitra sinerginya banyak banget. Hampir semua orang yang bermitra dengan beliau dapat kecipratan zam zam nya. Alhamdulillah.

Jadi sahabatku, larimu hari ini bukanlah untuk dirimu saja. Sa’imu bukan hanya untuk dirimu saja. Tapi bisa jadi, sa’i mu hari ini bisa jadi sebab lahirnya bisnis yang bermanfaat dari generasi ke generasi. Jadi janganlah berhenti, besarkan jiwamu, tinggikan harapanmu. Peradaban sedang menunggu melesatnya bisnismu.

***

Sahabat, panjang ya tulisan ini, maaf panjang, karena Saya juga sedang Sa’i, usia-usia produktif seperti Saya dan sebagian Anda adalah usia Sa’i. Memang itulah tahapannya. sama dengan teman-teman semua..

Semoga Sa’i kita adalah Sa’i yang tulus ridho. Semoga ikhtiar kita ini dihitung Allah kebaikan. Semoga mata air zam zam kita sebentar lagi memancar. Aamiin. Ya Mujibassailin.

KR Business Notes
Kamis, 21 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

MERASA BERDOSA SAAT BERJUALAN

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Salah satu yang mebghambat pencapaian cash seseorang adalah enggannya seseorang dalam berjualan. Keengganan seseorang dalam berjualan tentu sangat beragam dan itu sah-sah saja.

Sebenarnya, semua orang itu jualan, tapi mungkin ada yang vulgar atau ada yang lembut bermodus tak terasa. Atau bisa jadi, kegiatan transaksi itu tidak pernah mereka sadari.

Misalnya seorang karyawan yang merasa tidak pernah berjualan, padahal, seorang karyawan itu menjual kompetensi dirinya, menjual produktifitasnya, yang kemudian ditukar dengan gaji dan insentif.

Seorang Trainer yang merasa tidak berjualan, sebenarnya sedang menjual penampilannya saat tampil. Jika “dibeli”, maka peserta dan klien akan puas dan memperhitungkan sang Trainer untuk kemudian diundang kembali ke corporate. Walaupun merasa tidak ada aktivitas menjual yang dilakukannya. Karena ini adalah undangan langsung dari corporate, tetap saja hal ini adalah berjualan.

intinya, setiap orang dewasa yang sedang berjuang hidup mencari penghasilan sebenarnya dapat dipastikan terlibat dalam aktivitas berjualan.

***

Ketika kita sudah memahami bahwa berjualan itu penting dan menjadi pondasi penghasilan, ada sebagian dari sahabat yang kemudian merasa berat untuk berjualan. Obrolan demi obrolan terjadi, hingga akhirnya Saya menemukan sebuah alasan bahwa mereka merasa berdosa saat berjualan.

“Rasanya berat mas, teman sendiri sampe mengeluarkan uang untuk produk yang kita jual, suka gak tega.”

Itulah kalimat yang sering terucap dari mereka yang merasa bahwa berjualan itu berdosa.

Mari kita bahas, apakah sebenarnya berjualan ini berdosa?

Setidaknya, ada tiga pondasi berfikir besar, mengapa berjualan itu tidak berdosa dan malah berpahala :

1. Berjualan sebenarnya hanya tukar menukar nilai yang setara.

Jual beli sebenarnya adalah aktivitas tukar menukar sesuatu yang setara. Sebuah pulsa 100 ribu ditukar dengan uang senilai 100 ribu pula. Setara. Dan itu sah-sah saja.

Walau beberapa nilai produk memiliki persepsi ghoib yang berbeda satu dengan yang lain, namun ketika seseorang meyakini nilai itu, dan membayarnya, semua jadi setara.

Es teh manis di warteg dibandrol dengan 2000 rupiah sementar ice tea di sebuah cafe bisa dijual hingga 22.500. Keduanya sama-sama berupa teh manis yang diberi es batu. Namun persepsi ghaib keduanya membuat seseorang mau membayarnya.

Sehingga, berjualan sebenarnya hanya menawarkan sebuah produk yang bernilai. Ada produk yang membawa manfaat, dan kita tawarkan jepada seseorang yang membutuhkan. Sederhana saja. Tidak rumit.

Ada produk yang menurut kita membawa solusi, lalu kita melihat sahabat kita meniliki masalah yang dapat disolusikan dengan produk kita. Maka jual saja produknya. Anda sedang membantu dan menolong orang.

Pertanyaan lanjutan setelah ini adalah :

“Kalo emang niat bantu kang? Kenapa gak digratiskan saja?”

Oke, Saya akan sabar menjawabnya.

Sebuah kebermanfaatan produk harus berbentuk industri agar kebermanfaatannya terus berjalan. Sebuah layanan pendidikan itu membawa manfaat, agar anak-anak kita dapat mengenyam pendidikan yang baik. Lalu apa yang terjadi jika sekolah tidak mendapatkan pemasukan? Apa yang terjadi jika guru-guru dibayar dibawah UMR dan tidak dapat bertahan hidup dengan gaji yang ada?

Maka guru-guru akan mencari mata pencaharian yang lain, lalu apa yang terjadi pada peserta didik yang diajar oleh seorang guru yang mengajar dengan waktu sisa?

Begitu juga dengan industri training atau bahkan business coaching. Sah-sah saja ketika seorang konselor bisnis menetapkan tarif atas jasa konseling dan konsultasi dalam membangun bisnisnya. Karena seorang owner bisnis membutuhkan itu, dan beberapa coach memang benar-benar memfokuskan dirinya untuk mendidik pebisnis. Hidupnya sudah fokus disana. Jadi gak ada yang salah dalam hal-hal berbayar. Bahkan ada yang membayarnya dengan sharing profit.

Dalam beberapa kesempatan, sesuatu yang gratis menyebabkan beberapa layanan tidak sempurna dikerjakan. Sebuah layanan yang terlalu murah menyebabkan banyak cost operasi dipangkas, sehingga klien tidak terlayani dengan baik.

Oke ya… begitulah makna berbayar dalam sebuah bisnis. Sah sah saja. Dan kita harus membayar agar lestari.

Bayangkan jika kebutuhan seseorang akan transportasi digratiskan, dan layanan transportasi tersebut tidak mendapatkan subsidi dari mana-mana. Ya jelas bangkrut.

2. Berjualan sebenarnya membantu orang untuk berbelanja.

Hal yang kedua yang ingin Saya sadarkan kepada para pebisnis adalah tentang ketetapan belanja setiap orang. Setiap orang dalam masyarakat pasti meniatkan diri untuk berbelanja. Dan beberapa rumah tangga bahkan menetapkan angka belanjanya setiap bulan.

Kami mau belanja 5 juta bulan ini.
Kami mau belanja buku 2 juta bulan ini.
Kami mau rekreasi 1 juta bulan ini.

Maka, berjualan hanya aktivitas untuk membantu seseorang dalam berbelanja. Karena walaupun Anda berbelanja atau tidak, mereka tetap membelanjakan uangnya. Dan uangnya akan habis juga.

Lalu, yang harus kita maknai adalah, apa yang terjadi jika mereka salah membeli buku, salah memilih tempat rekreasi, salah membeli produk?

Maka, jika Anda memiliki produk yang memang berkualitas, bahkan Anda telah memakainya, atau bahkan Anda telah mendapatkan manfaat atasnya, lalu apalagi alasan Anda untuk tidak menjualnya.

Berhasil closing penjualan ataupun tidak sebenarnya hanya efek samping. Dan itu bukan masalah yang besar. Ketika ada seseorang yang menolak produk kita, berarti mereka bukanlah market kita. Ketika ada yang masih mikir-mikir, berarti mereka membutuhkan penguatan. Ketika ada yang menerima, berarti produk kita cocok untuk mereka.

Sederhana, tidak perlu merasa berdosa, kita sedang membantu seseorang untuk berbelanja.

3. Berjualan adalah kerja menggerakkan ekonomi.

Yang ketiga adalah bergeraknya ekonomi. Sebuah kesejahteraan terjadi jika ada arus pergerakan uang. Bukan banyaknya uang. Sebuah negara dengan uang yang berlimpah akan menjadi sengsara jika uang masyarakatnya tersimpan dan tidak bergerak terbelanjakan di sektor riil.

Ketika Anda berjualan buku, maka Anda mendapatkan untung, lalu modal beli buku dibayarkan ke Agen Buku. Setelah itu Agen Buku membayar kembali ke Penerbit. Lalu penerbit membayar pabrik kertas, tinta hingga cicilan mesin. Setelah itu pabrik bergerak, pembuat mesin cetak bergerak dan semua SDM yang terkait rantai panjang penjualan buku menjadi hidup karena mendapatkan pemasukan.

Maka, 1 kali closing dalam sebuah penjualan akan mengakibatkan rentetan kesejahteraan pada jutaan orang lainnya. Transaksinya sederhana, hanya Anda dan Customer, tetapi dibalik itu, akan ada jutaan orang yang kemudian teraliri kehidupannya, akibat aksi penjualan Anda.

Masihkah enggan untuk berjualan?
Masihkah ragu untuk menjual sesuatu?
Masihkah merasa berdosa?

Wajar jika kemudian janji langit menganugerahkan keberkahan pada para pedagang. Karena para pedagang inilah yang terus menggerakkan kebaikan di masyarakat. Apa kebaikannya : mensejahterakan banyak orang.

***

Akhirul kalam, semoga tulisan ini mengalir keseluruh penjuru tempat. Menyapa hati para penjual yang sedang jatuh mentalnya. Membangkitkan para pedagang yang sedang gelap jiwanya. Menghidupkan semangat para seller yang rindu closing.

Mulailah penjualan dengan semangat berpahala. Tidak akan ada energi positif apabila sebuah proses penjualan diliputi perasaan berdosa. Lepaskan perasaan buruk itu. Kembalilah mencatat list target market Anda. Bangun rencana penjualan. Dan tawari.. juali… edukasi… semoga closing yang banyak ya.. aamiien.

KR Business Notes
Rabu, 20 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

MAHALNYA MENDENGAR

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Ketika bisnis sudah membesar, biasanya organisasi bisnis memiliki sosok-sosok yang tidak sekedar bertugas melakukan eksekusi, namun juga berfikir pada tataran strategi. Waktu di awal-awal membangun bisnis, lapisan tim pemikir memang sangat sedikit. Biasanya organisasi dipenuhi oleh frontline yang langsung mengeksekusi pekerjaan.

Kehadiran tim pemikir di lapisan organisasi memang sebuah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Ketika perusahaan membesar, perusahaan mulai bisa membayar orang dalam range gaji yang lumayan tinggi. Semua dilakukan dengan harapan agar organisasi bisnis makin kokoh.

Ditengah niat baik menghadirkan lapisan pemikir strategis, penyakit yang biasa terjadi adalah sulitnya sang pemilik untuk kemudian meningkatkan kemampuan mendengarkan dan menyimak. Hal ini sebenarnya wajar, karena sang pemilik mengawali dan membangun bisnis ini sendirian. Sulit bagi seseorang yang sudah lama sendiri, tiba-tiba harus berbagi pendapat.

Maka di saat organisasi mulai menghadirkan lapisan pemikir strategis, organisasi dituntut untuk membangun kesetimbangan antara dominasi owner dan juga pendapat strategis lapis top manajemen. Perbedaan pendapat dan sudut pandang adalah kekuatan bagi sebuah organisasi untuk makin kuat secara langkah dan kebijakan. Pendapat dan gagasan yang selalu mendapat dukungan tanpa dikritisi relatif memiliki kekurangan disana sini.

Dari runutan cara berfikir tersebut, disinilah pentingnya membangun kesetimbangan yang sehat di organisasi bisnis.

Langkah Pertama, setiap sosok di organisasi harus menghargai peran sang owner dalam membangun dan merintis bisnis. Sikap hormat dan adab dalam penyampaian gagasan haruslah menjadi hal terdepan, agar hal-hal baik dapat sampai ke hati, bukan hanya sampai di fikiran. Banyak kejadian dimana tim top manajemen gagal mengemas ide dan gagasan.

Langkah kedua, baik owner maupun lapis top manajemen harus menyadari bahwa semua yang duduk di dewan tinggi adalah mereka yang berniat membangun kebaikan bagi organisasi. Semua saran yang dihadirkan pada hakikatnya bertujuan baik. Hanya saja asumsi dan latar belakang pemikiran masing-masing saja yang berbeda. Maka setiap perbedaan harus disikapi bijak, bukan dengan amarah emosi.

Langkah ketiga, semua pihak di lapis top manajemen harus mengenali dan memaknai peran dari masing-masing pihak. Ada yang memang bertugas agresif dominan dalam pertumbuhan, ada yang bertugas menjaga sendi-sendi operasional agar tidak kelabakan, ada yang harus bertugas hemat dalam membelanjakam anggaran, ada yang bahkan harus selalu jeli mencari letak-letak kebocoran-kecurangan-kesalahan dalam operasional. Semua peran harus difahami dan dimengerti posisinya. Sehingga perbedaan pendapat menjadi karunia untuk pertumbuhan.

Dengan adanya 3 langkah ini, insyaAllah mendengar dan menyimak gagasan akan menjadi budaya baik di sebuah perusahaan. Pada akhirnya kita menyadari, bahwa mendengar dan menyimak adalah aktivitas yang sangat mahal harganya.

KR Business Notes
Selasa, 19 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

ANTUSIASME BISNIS

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Saya pernah berkesempatan berbincang dengan praktisi HR yang sudah malang melintang di beberapa perusahaan besar, baik keluarga maupun korporasi. Beliau kemudian memaparkan kalimat sederhana yang membuat Saya berfikir terus.

“Jadi mas, kalo perusahaan masih 6 tahun, memang lagi cepat-cepatnya berkembang, organisasi memang capek, dan keras tekanannya, beda dengan yang sudah agak mature, lebih santai.”

Lalu fikiran saya mencari jawaban..

Bisa jadi, perusahaan yang baru melakukan penetrasi pasar, masih memiliki potensi pasar yang masih cukup luas. Berbeda dengan perusahaan yang sudah tua, bisa jadi pasarnya jenuh.

Bisa jadi juga, perusahaan yang masih berkembang, lagi bangun sistem disana sini. Berbeda dengan perusahaan yang sudah matang, mungkin tidak perlu bangun sistem ini itu lagi. Semua sudah jalan.

Brand produk sudah menancap, organsiasi sudah fluent operation, hambatan-hambatan pekerjaan sudah dibabat, matang lah… mungkin ini yang menyebabkan organisasi bisa santai berjalan.. mungkin lho ya..

Tapi tadi malam Saya memikirkan hal yang lain : ANTUSIASME.

Bisa saja, karena perusahaan masih baru, owner masih muda penuh energi, antusiasme bisnisnya masih besar.

Ada hasrat bertumbuh, ada hasrat berprestasi, ada hasrat merebut pasar, ada hasrat benerin produk, pokoknya antusias deh.

Dan Saya jadi inget beberapa pengusaha senior yang menurut saya kehilangan antusiasme..

“Yang penting jalan aja udah syukur, profit cukup untuk hidup, mau apa lagi.”

“Udah segini aja, segini juga udah alhamdulillah…”

“Ngapain lagi ekspand.. segini aja… mau apa emangnya?..”

Akhirnya Saya jadi deg-deg an sendiri, ternyata kita perlu menambahkan kalimat pada doa doa kita… semoga Allah menjaga antusiasme jihad bisnis kita di lapangan… semoga Allah menjaga api antusiasme didalam jiwa.

Ketiadaan antusiasme membuat kita menunda pekerjaan, ketiadaan antusiasme membuat kita malas berfikir, kita inginnya jadi cepat pulang kerja, adapun pergi kerja.. kita enggan. Kita enggan mengerjakannya, karena kehilangan antusiasme.

Makadari itu, dalam skala pribadi, kita harus menjaga antusiasme pribadi kita. Kita harus jaga api diri kita.

Dalam skala bermitra, kita harus jaga antusiasme mitra kita

Jika bermitra pemasaran, sediakanlah barang yang cukup, supportlah dengan sistem yang baik, dengarkanlah keluhan pasar, jagalah antusiasme pasar.

Jika kerjasamanya membutuhkan akad kerjasama yang firmed, segeralah bangun akad legal yang serius. Jangan ditunda. Tunjukkanlah sinyal bahwa Anda antusias bekerja sama, jangan sampai mitra anda kehilangan antusiasme.

Intinya.. antusiasme ini MaasyaAllah… penting bin penting… jangan main-main.

Saya akhirnya mengingat-ngingat teman-teman Saya yang capaiannya luar biasa, mereka semua adalah orang-orang yang ANTUSIAS pada proyek nya.

Antusias nulis buku…
Antusias jualan online..
Antusias bangun reseller…
Antusias jualan rumah..
Antusias ngurusin toko…

Antusiaslah kawan.. bangunlah antusiasme…

Hatur tengkyu…

KR Business Notes
Senin, 18 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

ALERGI MODIFIKASI BISNIS MODEL?

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Gambar dibawah ini Saya dapatkan entah kapan. Pokoknya setiap ada gambar yang menurut Saya bisa jadi tulisan, ya Saya simpan.

Baju salah satu pemain bola nasional dibawah ini penuh dengan logo sponsor. Gak tanggung-tanggung, sekitar 14 logo bertengger di baju bola ini.

Sebagian orang alergi, menganggap ini berlebihan…

Tapi inilah faktanya, bisnis model klub bola harus dimodifikasi.

Para pemain harus tetap makan…
Para pelatih harus tetap bisa bertahan..
Pemilik klub harus tetap untung…

Dahulu, revenue stream mengalir dari tiket penonton dari pertandingan kandang. Tetapi berharap dari tiket bukan lagi solusi target penerimaan.

Biaya akuisisi pemain menjadi sangat mahal.
Ongkos operasional club besar membengkak.
Sementara klub harus terus berputar dan berjalan.

Akhirnya bisnis modelnya diubah…

Yang nonton bola masih banyak…
Sorot mata masih ke para pemain…
Animo pertandingan bola masih tinggi…
Dan bahkan jersey pemain pun masih tinggi demandnya…

Akhirnya penampang baju jersey jadi “alternate income stream”.

Uang dari sponsor…
Sponsor membiayai klub..
Lalu klub memberikan performa tanding…
Klub yang hebat akan makin lama disorot di lapangan…

Crowd tercipta…
Awareness tercipta…
Sales ke produk sponsor berjalan..

Klub senang…
Pemain bahagia…
Pelatih bisa terus hidup…
Pemilik klub untung…
Sponsor bahagia…
Market yang terpapar iklan bisa nonton Bola..

Semua happy. Titik. Mau Anda sealergi apapun. Inilah yang harus diapresiasi. Ada seseorang yang mau merubah bisnis model yang usang. Dan ini yang menyelamatkan industri persepakbolaan tanah air.

***

Hari ini banyak bisnis model yang usang. Banyak bisnis model yang sebenarnya menjebak pemain baru untuk tersungkur jatuh tanpa bisa bangkit lagi.

Ditengah zaman yang begini usang secara bisnis model, diperlukan seseorang yang berani merevolusi bisnis model yang sudah terlanjur gelap.

Hari ini bisnis model toko buku selesai dengan konsep penjualan buku online dari penulis.

Hari ini bisnis model penerbitan selesai dengan gerakan self publishing.

Hari ini bisnis model pengajaran kursus tatap muka selesai dengan kursus via online.

Intinya perlu ada keberanian….

Merubah arus uang yang semua dari market, menjadi dari sponsor.

Merubah kanal penjualan yang panjang menjadi ringkes.

Memangkas anggaran marketing yang mubazir menjadi hemat dan tetap berdampak.

Para revolusionist pasti mendapatkan tantangan dan cibiran…. bukti hasil adalah juru bicara yang terbaik.

So… mari bekerja merusak pola.

KR Business Notes
Ahad, 17 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/