digital banking metaverse banking

Setelah Digital Banking, Kini Hadir Metaverse Banking

digital banking metaverse banking
digital banking metaverse banking

Dunia metaverse, dinilai akan menjadi salah satu teknologi yang menguntungkan bagi dunia perbankan, karena menawarkan penagalaman baru, kemudahan, serta kepuasan bagi nasabah. Saat ini mobile banking merupakan tahap awal dalam memasuki dunia metaverse. Oleh karena itu, seluruh bank-bank di Indonesia terus berlomba untuk menjadikan aplikasi perbankan, menjadi super apps.

Saat ini bank-bank berlomba untuk tidak hanya masuk ke digital sekedar untuk cek saldo dan transfer. Tapi juga memulai super apps yang masuk dalam ekosistem. Metaverse akan menarik customer terutama milenial untuk take over.  Saat ini juga banyak kantor cabang perbankan yang mulai tutup, sebagai dampak digitalisasi, sekaligus untuk efisiensi biaya.

Di sisi lain, peran kantor cabang masih penting untuk transaksi besar, hubungan nasabah, dan terkait dengan masalah-masalah yang kompleks. Kalau bisa janganlah buang-buang waktu, melalui metaverse, hal-hal yang kompleks dan bersifat physical akan bisa kita raih secara digital. Jadi yang namanya digital banking, ke depannya bukan hanya mobile banking tapi juga metaverse banking.

Digital Banking, ke Depannya Bukan Hanya Mobile Banking Tapi Juga Metaverse Banking

Saat ini teknologi sangat cepat berubah. Apalagi 3 perusahaan raksasa dunia seperti Facebook, Microsoft, dan Google sudah komit untuk masuk dalam Metaverse. Ke depan yang harus kita bayangkan bukan hanya digital banking tapi metaverse banking. Kita akan berbentuk seperti avatar yang bisa membeli baju dan dipakai pada avatarnya. Hal itu akan menjadi kehidupan tersendiri di metaverse.

Adapun manfaat metaverse bagi perbankan yakni pelayanan physical service yang biasanya dilayani di cabang, melalui dunia metaverse akan lebih mudah dan serasa berada di kantor cabang. Saat ini ada banyak bank di luar negeri yang menyatakan akan masuk ke dalam dunia metaverse, seperti beberapa bank di Korea KB Kookmin Bank, Industrial Bank of Korea, NH Nonghyup dan Hana Bank.

Kemudian ada juga Bank of America, BNP Paribas, Bank of Kuwait, dan Mecrobank. Baca juga: Mengenal Metaverse yang Ramai Diperbincangkan dan Kaitannya dengan Kripto Dengan perkembangan zaman saat ini, saya yakin banyak bank di Indonesia akan masuk ke metaverse. Saat ini banyak milenial yang uangnya banyak menjadi nasabah prioritas banking. Metaverse adalah pilihan yang tepat bagi bank untuk memberikan layanan terbaik kepada nasabah tersebut.

Sementara itu, Founder sekaligus Managing Director Shinta VR Andes Rizky mengungkapkan, dunia metaverse dapat mengaburkan batas antara kenyataan dan dunia virtual, sehingga para pengguna Metaverse dapat merasakan suasana physical yang mirip dengan dunia nyata. Aktivitas transaksi seperti pengiriman uang dapat dikelola di teller bisa juga diwujudkan melalui Metaverse. Hal ini bisa menjadi new experience tersendiri bagi nasabah

Metaverse Banking  Menawarkan  New Experience Bagi Nasabah

Saat ini sudah banyak bank di luar negeri, sebut saja di Korea Selatan menyatakan masuk ke metaverse untuk meningkatkan layanannya pada nasabah. Kemudian Bank of America, BNP Paribas lalu Bank of Kuwait dan terakhir Mecrobank di Swedia. Jadi tak berlebihan kalau kita bilang bahwa teknologi metaverse adalah masa depan perbankan, termasuk perbankan di Indonesia.

Banyak hal bisa dieksplor perbankan di metaverse untuk memberikan new experience bagi nasabah dan menciptakan customer satisfaction. Contoh paling jelas di mana metaverse dapat memengaruhi perbankan adalah dalam interaksi pelanggan, apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Banyak bank telah menawarkan layanan video tatap muka dengan nasabah dan menggunakan mesin teller interaktif menggunakan konektivitas video dan fungsionalitas yang lebih kuat daripada ATM. Namun ke depan melayani pelanggan di dunia virtual akan menjadi satu kemutlakan. Meteverse adalah jawabannya.

Target YouTube Tahun Ini: NFT dan Dunia Virtual Metaverse

YouTube menguraikan rencana mereka soal blockchain dan metaverse di 2022 ini. Perusahaan yang dimiliki oleh Google itu mengatakan, pengguna dapat memanfaatkan teknologi anyar untuk mengurangi penipuan di pasar seni digital yang kini kian tumbuh pesat.

YouTube juga akan menawarkan pengalaman menonton yang lebih baik untuk konten khusus game. Layanan streaming terbesar di dunia itu selama setahun terakhir telah berupaya untuk memberikan panduan yang lebih baik kepada pengguna di tengah meningkatnya persaingan dengan TikTok dari ByteDance dan Instagram.

Bulan lalu, YouTube mengatakan sedang menjajaki apa yang disebut teknologi Web3 seperti non-fungible token (NFT), yang merupakan klip video, seni, atau aset digital lainnya terkait dengan blockchain teknologi pencatatan.

YouTube mengatakan dalam postingan blog, bahwa menunjukkan bahwa itu bisa membuat proses transaksi NFT lebih aman. Seperti yang diketahui, penjualan NFT melonjak sejak tahun lalu, tetapi kritikus banyak mengatakan bahwa NFT hanya sebuah penipuan, pencurian hak cipta dan perilaku predator lainnya.

YouTube memberikan cara yang dapat diverifikasi bagi penggemar untuk memiliki video, foto, seni, dan bahkan pengalaman unik dari pembuat konten favorit mereka, dapat menjadi prospek yang menarik bagi pembuat konten dan audiens mereka.

YouTube juga telah memprioritaskan metaverse, sebuah elemen dari gerakan Web3 yang menggambarkan dunia virtual, di mana orang biasanya berinteraksi melalui avatar.

YouTube mengatakan ada kemungkinan pengguna untuk dapat menonton video bersama dalam metaverse. Namun demikian, secara umum untuk saat ini YouTube hanya akan fokus pada video yang terkait dengan game. Hal itu yang membuat YouTube akan bekerja untuk menghadirkan lebih banyak interaksi ke permainan dan membuatnya terasa lebih hidup.

Peran NON-fungible token (NFT) Dalam Mendukung Metaverse

NON-fungible token (NFT) dan Metaverse semakin menjadi perbincangan saat ini. Banyak masyarakat yang tidak mau tertinggal tren mulai mendalami NFT dan metaverse, baik sebagai kreator dan kolektor.  Jika melihat dari data pencarian keywords “NFT” di Google Trend pada rentang waktu Januari 2021-Januari 2022, terlihat kenaikannya hingga lebih dari 100%.

Hal ini meyakinkan bahwa adanya tren peningkatan di masyarakat untuk mengenal tentang NFT.  NFT sendiri memiliki fungsi sebagai bukti kepemilikan berbentuk digital dan untuk memilikinya biasanya dengan cara menukarkan fungible token seperti ETH, BSC, BNB, ataupun TKO. Bentuk utilitas dari NFT pun bisa bermacam-macam seperti akses untuk play-to -earn game, collectible items, merchandising, ticketing, dan lainnya.

Di Asia Pacific, banyak proyek NFT berbasis komunitas yang telah menarik perhatian dunia seperti Superlative Secret Society, Avarik Saga, Shark Outlaw Squad, Debbie Tea, dan lainnya. Tidak hanya proyek NFT, banyak negara di Asia Pasific Indonesia telah memiliki platform NFT marketplace untuk mendukung ekosistem NFT yang lebih matang.

Saat ini makin banyak pelaku bisnis di bidang kreatif untuk mengakses pasar global melalui pemanfaatan NFT.  NFT memiliki potensi besar kedepannya mengingat ekosistem industri blockchain yang masih terus bertumbuh hingga jumlah pelaku kreatif berbakat di Asia Pasifik yang sangat besar dan beragam.

Potensi yang besar itu harus diseimbangkan dengan edukasi yang tepat untuk masyarakat yang tertarik dengan NFT sebagai kreator ataupun kolektor.  Masih ada jarak antara awareness dan pemahaman meskipun tren NFT ini meningkat di masyarakat. Hal ini menjadi tantangan buat pelaku bisnis di bidang NFT untuk memastikan edukasi ini tersampaikan secara baik dan tepat, dengan informasi yang kredibel.

Leave a Reply

Your email address will not be published.