3 Studi Kasus di Industri Keuangan

Studi kasus ini hanya dilihat dari aspek bisnisnya saja, bukan aspek lainnya

Studi Kasus 1:

Bulan kemarin saya buka deposito di BPR dapat bunga sekian persen. Corona membuat instrumen investasi yg saya ikuti rontok semua. Langkah penyelamatan paling “aman” masuk deposito. Dengan bangga sekian persen tadi saya pamerkan ke teman saya. Eh dia bilang dapat lebih dari itu. Lha kok bisa? Dia bilang ikut BPR Syariah.

Saya makin penasaran..Sekian persennya yang dia dapatkan dari BPRS itu pasti dapat atau gak pasti alias tergantung kinerja BPRS (bisa saja naik atau turun alias tidak bisa dipastikan)? Dia balik tanya: kalo dapatnya gak pasti, kira kira ada gak yg mau masukin deposito kesitu?
Aku cuma nyengir dan mbathin : “bener juga ya”

Studi kasus 2:

Sudah 2-3 tahun ini saya ikut fintech..imbal baliknya lumayan, 12-15%/THN. Sejauh ini lancar kecuali pas Corona kmr banyak restruktur ada juga yg sampe proses klaim insurance akibat gagal bayar..gak tahu nasib kedepannya, semoga aman..

Diluar kasus corona, dalam kondisi normal, kurang lebih setahun yg lalu sempat baca ada tawaran versi syariah (yg saya ikuti saat ini konven) , langsung saja tak iyani tanpa mikir panjang, mumpung ada yang sesuai syariah pikirku.

Hanya saja pihak cs online fintech kasih “notice”, sdh baca aturan maennya belum? Kujawab Belum..cs online cuma ngasih info salah satu poin pentingnya adalah bahwa kalo mitra yg dibiayai rugi, kita ikut nanggung rugi, bahkan kalo bangkrut misalnya ya dana invest loss..bisa jadi total lost..

Kira kira diambil nggak? Dalam hati saya mikir: orang yg kita kenal baik saja kalo ngutang nagihnya susah nya minta ampun, apalagi dalam hal ini, kita membiayai mitra usaha, kenal juga kagak, yg nagih juga gak kita kenal..

Studi kasus 3:

Teman saya mau ambil KPR konsultasi ke saya:
KPR mana yg paling mengntungkan?

Saya tanya balik mau ambil berapa tahun? Dia jawab rencana 10 tahun. Ada nggak kemungkinan lunas dipercepat? Dia jawab ada, karena bisnisnya dia high risk..kadang kaya kadang sepi..

Saya kasih ilustrasi..

Di bank konvensional biasanya menawarkan bunga fixed dan floating, misalnya fixed rate 4,6% untuk 1 tahun, atau 5,9% untuk 3 THN, sisanya sampe lunas (10 tahun) ikut floating rate (berubah ubah), biasanya tawarannya floating rate yg ada batas maksimalnya, misal 12%.

Kalo lunas dipercepat bagaimana? Dalam KPR konvensional angsuran terdiri dari pokok dan bunga, misal 3 tahun lunas, nasabah dapat bunga ringan yg fixed rate tadi, kemudian sisanya bayar pokoknya saja plus ada penalti (itupun gak seberapa jika dibandingkan dengan kalo disuruh bayar semua angsuran tersisa yg terdiri dari pokok dan bunga yang 10 tahun itu).

Kalo di bank syariah misalnya ambil akad murabahah, maka angsuran yang dibayar terdri dari harga rumah (nominalnya sama dengan “pokok” kalo di konven) dan margin (nominal nya sama dengan “bunga” di konven) yang diambil bank. Biasanya margin di angka 7% an per tahun. Jadi sudah diketahui sejak awal berapa total yang harus dibayar sampai lunas 10 tahun di bagi 120 bulan, itu yang diangsur.

Kalo lunas dipercepat bagaimana? Ya tetap saja, bayar semua kesepakatan di akad, yang terdiri dari harga rumah ditambah margin yang 7% an tadi selama 10 tahun walaupun baru 3 tahun di lunasi. Apakah gak ada keringanan macam diskon dsb? biasanya itu tergantung kebijakan bank, namun yang pasti tidak diperjanjikan..

Jadi mana yang menguntungkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *