Home   Pojok UMKM   Tahun 2020-2030, Akankah Menjadi Bonus Demografi atau Tsunami Demografi?

Tahun 2020-2030, Akankah Menjadi Bonus Demografi atau Tsunami Demografi?

Secara statistik berdasar data demografi, Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demogarfi di tahun 2020-2030 nantinya. Artinya pada tahun tersebut, jumlah penduduk usia produktif di tanah air ini akan dominan di atas usia non produktif. Hal ini menguntungkan, karena secara teori, produktifitas penduduk Indonesia akan meningkat yang berdampak pada kemajuan bangsa dari segala bidang. Jika melihat tren teknologi masa kini yang berkembang sedemikian pesat dan telah mengubah berbagai hal dlam kehidupan, akankah jumlah penduduk usia produktif yang besar tersebut akan menjadi bonus demografi ataukah justru tsunami demografi? Beberapa fakta berikut ini akan mengulasnya..

Tahun 2020-2030, Akankah Menjadi Bonus Demografi atau Tsunami Demografi?

Tahun 2020-2030, Akankah Menjadi Bonus Demografi atau Tsunami Demografi?

Dari sisi lapangan kerja, model bisnis masa kini menghapus banyak kesempatan kerja

Publik sempat terkejut saat beberapa bisnis ritel belakangan ini mulai berjatuhan atau setidaknya banyak pengurangan dari sisi omset maupun jumlah karyawan, mulai dari Sevel sampai yang terbaru Hypermart. Banyak analis mengaitkannya dengan adanya tren model bisnis online yang berkembang pesat belakangan ini. Ada perbedaan mendasar kedua model bisnis ini seperti skema berikut ini:

Bisnis Offline:

Produsen – distributor – transport  – sub distributor – toko retail – konsumen.

Bisnis Online:

Produsen – Apps – transport/kurir – konsumen.

Dari skema diatas terlihat jelas bahwa ada 3 pemain besar dalam rantai bisnis ini yang ter-disrupted (hilang) akibat teknologi., yaitu distributor, sub distributor dan juga toko retail. Peran mereka selama ini akan tergantikan oleh teknologi dalam bentuk aplikasi. Ya…aplikasi android saat ini seolah menjadi pembunuh massal 3 pilar penyerap sumber daya manusia terbanyak tersebut, yang akan memangkas jalur distribusi, dari pabrikan/produsen langsung menuju konsumen dengan bantuan kurir secara langsung tanpa lewat distributor. Sangat efisien, dari sisi biaya maupun waktu.

Makin banyak obyek pajak yang ter-disrupted (hilang)

Dengan hilangnya tiga sektor diatas, secara otomatis obyek pajak juga ikut hilang (Ter-Disrupted), yang meliputi: distributor – sub dist – toko retail dan lapangan kerja di dalamnya. Kita semua tahu bahwa pajak adalah sumber pendapatan utama negara. Jika sumbernya berkurang, tentu butuh usaha kreatif untuk mencari obyek pajak pengganti agar pendapatan negara tidak ikut turun.

Munculnya Global Single Market dengan Konsep The Winner Takes All

Makin sepinya mall dan pusat perbelanjaan tak lepas dari makin agresifnya persaingan global di bisnis online.  Tanpa sadar sesuatu yang mencekam telah terjadi yaitu adanya tren menuju Global Single Matket dalam sebuah global competition yang telah memunculkan mall-online (market place) dalam skala Global yang akan menggerus pemain domestik. Abil contoh saja saat ini setidaknya ada 3 pemain besar dalam bisnis market place ini, yaitu Tokopedia, Bukalapak dan Shoppe.

Nah, apa jadinya jika sebentar lagi cuma ada 3 Global online shop/mall tersebut, atau lebih ekstrim lagi jika cuma ada satu saja? Dalam dunia digital berlaku konsep the winner takes all, artinya pemain besar harus menguasai semua sektor agar bisa “survive” di kompetisi digital ini. Dan ini bukan hal yang mustahil, apalagi jika kita lihat beberapa periode yang silam Alibaba menggelontorkan dana hingga Rp.6,5 Triliun untuk investasi di Tokopedia. Sebuah dana yang sangat besar untuk ekspansi sebuah bisnis. Bagaimana kelak landscape lapangan kerja era digital dengan adanya bonus demografi yang besar sedangkan lapangan kerja banyak yang hilang diganti dengan teknologi? Bisakah lapangan kerja di era digital ini menampung Bonus Demografi ataukah justru menjadi Tsunami Demografi?

Mengenal Potensi Pasar eCommerce Indonesia

Perkembangan bisnis masa kini tak bisa lepas dari perdagangan elektronik. Ada beberapa pemain baik lama maupun baru yang kini menguasai market place eCommerce tersebut. Bahkan perkembangan paling mutahir saat ini adalah banyaknya investasi sebesar miliaran US$ di Indonesia sehingga melahirkan tiga pemain besar di sektor eCommerce dan bisnis digital tanah air yaitu:

  1. Tokopedia
  2. Gojek dan
  3. Traveloka.

Dengan pengelompokan bisnis berdasarkan grup pemodal yang ada dibalik bisnis itu yaitu:

  1. Tokopedia dan Lazada (yang diinvest oleh Alibaba)
  2. Shopee, JD, Traveloka (yang diinvest oleh Tencent)
  3. Blibli dan Tiket.com (yang diinvest oleh GDP Capital milik Djarum Group)

Walaupun saham Alibaba di Tokopedia memang tergolong minoritas, namun di Lazada sudah mencapai 80%. Ini kemudian akan diintegrasikan dengan payment gateway (Alipay dan Doku) serta didukung kekuatan logistik China Smart yang mendominasi logistik Asia Tenggara melalui Singpost.

Strategi jangka panjang Jack Ma adalah menguasai infrastruktur di SEA utamanya Indonesia melalui kendaraan ecommerce. Alibaba sudah membangun infrastruktur FBL (Fulfilled by Lazada – 60.000 SQM gudang di Cimanggis dan terus membangun di kota-kota lain dan memiliki infrastruktur delivery sendiri dengan LEX – Lazada Express .

Pesaing kuat Alibaba adalah Tencent (induk semang dari JD.co).  Tencent masuk ke Indonesia melalui JD.id , Gojek dan Traveloka. Tencent pun ingin menguasai infrastuktur payment Go-PAY yang dipakai Go-JEK, yang saat ini sudah menjadi e-wallet terbesar di Indonesia, mengalahkan e-wallet yang dibuat bank dan industri telekomunikasi. JD.ID sudah mulai membangun gudang distribution Center di Jakarta maupun di Kota-kota besar di Indonesia beserta Hub pengirimannya sendiri. Tencent makin kuat dengan investasi di Shopee.co.id.

Kedua pemain raksasa ini sudah mengubah peta e-commerce Indonesia.  Setahun terakhir ini market share- nya di pasar Indonesia  meningkat pesat dengan membawa produk-produk murah China.

Petinggi Shopee menyatakan dalam kurun waktu dua tahun ke depan, pasar Indonesia hanya akan menjadi medan pertempuran dua raksasa ecommerce dr China: yaitu Lazada (+ Tokopedia) dan Shopee.

Bagaimana dengan Blibli? Tetap akan bertahan tapi menjadi pemain ketiga yang paling banyak menguasai 20% pasar, yang 80% menjadi rebutan kedua grup di atas. Prediksi peta kekuatan eCommerce diatas akan berubah jika Amazon masuk ke Indonesia.

Bagimana Nasib pemain Lokal ?

Hingga saat ini pemain ecommerce lokal belum bisa mengimbangi pertempuran dengan para pemain raksasa China tersebut. Pemain lokal kalah dalam pengalaman, finansial, teknologi, bigdata, dan jaringan. Ada dua kemungkinan bagi pemain lokal yang tidak sekuat Blibli.com:

  1. Diakusisi atau
  2. Tutup karena kehabisan pendanaan di tengah jalan..

Persaingan di e-commerce ini juga berdampak pada bidang-bidang pendukung penguasaan market diatas. Pemain di bidang logistics dan payment  akan dikuasai mereka juga. Yang mengkhawatirkan, supplier produk lokal akan tergantikan oleh produk-produk asing jika tak mampu mengambil peluang emas berkembangnya e-commerce ini.

Rumor yang beredar saat ini: petinggi beberapa pemain besar di bidang ini berusaha melobi pemerintah untuk dapat melonggarkan aturan impor finish goods untuk dijual via e-commerce Indonesia.

Apa yang harus dilakukan?

Venture Capital Indonesia dan pelaku e-commerce lokal harus segera melakukan konsolidasi untuk mengimbangi kedua rakasa di atas, dengan cara:

  1. Melindungi pasar Indonesia dan mendorong produsen lokal bisa bersaing di pasar ecommerce, serta
  2. Membawa produk-produk lokal masuk ke pasar global.

Bagaimana dengan peran pemerintah, Apakah pemerintah perlu intervensi?

Pemerintah diharapkan segera melakukan upaya perlindungan terhadap pemain lokal dan pasar Indonesia  melalui beberapa kebijakan :

  1. Mengetatkan kran import finish produk dari China dan atau negara lainnya.
  2. Membatasi komposisi produk-produk impor yang dijual via e-commerce agar produk lokal tidak tersingkir dari pasar e-commerce.
  3. Membangun produk lokal yang kuat dan mampu bersaing di pasar e-commerce, dengan berbagai insentif (misalnya, jika penjualan produknya di ecommerce semakin tinggi maka ada fasilitas pajak atau lainnya)
  4. Menekan para pemain asing yang menggarap marketplace Indonesia agar memasarkan produk-produk lokal ke pasar internasional.

Bagaimana peran kita yang nantinya akan kebagian bonus demografi di Tahun 2050?

Kita tidak bisa hanya berharap mudah-mudahan bukan revolusi digital tapi evolusi digital, sehingga anak cucu kita bisa bersiap diri dengan baik. Teknologi berkembang sedemikian pesatnya. Kondisi saat ini, yang penting pengusaha local yg sukses dibidang e-commerce jangan menjual “sahamnya” ke asing.  Perusahaan logistic national jangan dijual ke asing.  Mahasiswa diajari kewirausahaan utamanya dari sisi praktek (sudah bukan jamannya lagi membuat riset dalam bentuk skripsi atau Tugas Akhir yang di awang-awang alias tidak bisa diaplikasikan), kembangkan terus kreativitas dan berinovasi. Lulusan yang IP tinggi jadilah tenaga ahli yang bersertifikasi, karena kebutuhan akan jasa tersebut akan dilelang via online.  Lulusan yang IP pas-pasan silahkan berwirausaha agar roda perekonomian bergerak, sehingga tenagal ahli diatas juga bisa terutilisasi dengan baik. Bonus demografi bisa maksimal jika digiring ke bidang yang sesuai dengan kondisi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Best Services from Our Business.