Home   Pojok Syariah   Ruwetnya Model Investasi ala Tukang Bubur di Negeri Pengin Makmur

Ruwetnya Model Investasi ala Tukang Bubur di Negeri Pengin Makmur

Alkisah, di Negeri Pengin Makmur, Ali Murah adalah seorang Tukang Bubur yang lagi naik daun. Tahun ini adalah tahun ke 5 usaha buburnya berjalan. Dalam setahun terakhir jualannya makin laris, nama “Bubur Ali Murah” juga makin dikenal luas. Walhasil, Ali Murah sendiri makin kewalahan melayani omzet yang kian membesar.

Ruwetnya Model Investasi ala Tukang Bubur di Negeri Pengin Makmur

Ruwetnya Model Investasi ala Tukang Bubur di Negeri Pengin Makmur

Layaknya seorang pebisnis profesional, Ali Murah punya mimpi besar, sebesar jangkauan buburnya yang makin dikenal luas. Ali Murah tak kenal visi misi bisnis layaknya teori bisnis yang banyak dibahas di sekolah bisnis, namun ternyata yang dia praktekkan adalah aplikasi dari itu semua. Maklum, bisnis sekolah alam beda dengan bisnis hasil sekolah formal. Dalam benak Ali Murah dia hanya berfikir bagaimana omzet usahnya bisa makin besar dan dia tidak kewalahan melayani pelanggan. Tercetuslah ide, gotong royong berbagi untung dengan pelanggannya. Apa salahnya pelanggan setianya ikut menikmati keuntungan dari makin besarnya omzet Bubur Ali Murah.

Selain pintar membuat bubur, Ali Murah ternyata juga pintar menawarkan bagi hasil keuntungan Bubur Ali Murah ke pelanggannya agar mereka bersedia menyetorkan modal. Salah satu kepintaran Ali Murah dalam menawarkan skema investasi ala Ali Murah ini adalah menjadikan bagi hasil dalam bentuk imbal balik investasi sebesar 10% per bulan ini sesuatu yang masuk akal bagi pelanggannya. Penawaran ini ternyata cukup bombastis membius banyak investor baru. Adalah hal biasa di Negeri Pengin Makmur yang sempat diterpa isu penurunan daya beli, namun tetap saja ada kenaikan peminat investasi asalkan imbal baliknya “Mak Nyus”, sama mak-nyus nya dengan Bubur Ali Murah.

Hasil pengumpulan dana investasi ala Ali Murah ini luar biasa, dari puluhan menanjak ke ratusan juta, dan dari ratusan mulai mendaki ke milyar, dan kini dana investasi milyar sudah mulai mengintip ke nominal trilyun. Ali Murah, bukan lagi pedagang bubur puluhan atau ratusan ribu lagi, kini Ali Murah sudah bermain di ranah pengelola dana investasi milyaran menuju triyun rupiah. Investornya bukan hanya pelanggan perorangan saja, namun sudah mulai banyak perusahaan yang menitipkan modal investasinya ke bisnis Bubur Ali Murah ini.

Dengan makin banyaknya peminat investasi ini, Ali Murah paham bahwa Bubur Ali Murah tak akan bisa memenuhi keinginan investor (imbal balik 10% per bulan), yang makin terbius slogan favorit “Saatnya Uang Bekerja Untuk Anda!”. Otak kanan Ali Murah yang terlalu ekstrim kekanan dalam berbisnis langsung merespon bahwa Ali Murah harus melempar dana investasi pelanggannya tersebut ke usaha lain yang bisa memberikan margin keuntungan 20% per bulan. Lagi-lagi Ali Murah cukup piawai dalam menjelajah market orang kepepet yang mau menerima akad ekstrim seperti itu. Walhasih, pengusaha kepepet yang banyak bertebaran di pasar seluruh kota adalah penerima akad imbal balik 20% tersebut. Secara matematis, Ali Murah masih bisa meraup imbal balik 20%-10% dari skema investasi yang dia tawarkan.

Menyimpan dan mengelola dana milyaran tanpa usaha yang sekelas tentu menimbulkan kecurigaan pihak otoritas di Negeri Pengin Makmur. Lagi-lagi, Ali Murah piawai mengelabuhi pengelolaan dana milyaran tersebut. Dibentuklah Koperasi Ali Murah yang bergerak dalam bidang Usaha Simpan Pinjam. Cuma saja, entah Ali Murah tidak paham atau tutup mata, bahwa skema pengumpulan dana yang dia lakukan tersebut masuk dalam aturan usaha bidang investasi bukan lagi simpan pinjam. Ijin dan pengawasannya juga berbeda.

Selain tutup mata terhadap aturan maen, Ali Murah tampaknya juga tutup mata terhadap potensi resiko pengusaha kepepet tempat dia melempar akad yang dia minta imbal balik 20% di seluruh kota tadi. Imbal balik yang ditawarkan ke investor yang terlalu besar, kemudian imbal balik yang diminta ke penerima akad juga kelewat besar, selain itu Ali Murah juga tidak punya bagian manajemen resiko yang bertugas menganalisa resiko pinjaman macet tersebut. Hasilnya sesuai dengan prediksi banyak pengamat ekonomi (walau pemula sekalipun bisa menebak): Modal usaha yang dilempar ke pengusaha banyak yang macet, janji imbal balik yang dia sampaikan ke investor juga macet. Ekstrimnya lagi, tagihan imbal balik hasil investasi sekilas diprediksi mencapai 3 T !

Kehebohan di Negeri Pengin Makmur  segera merebak. Apalagi dengan kecanggihan transfer informasi saat ini, seolah dalam waktu singkat 200 juta penduduk Negeri Pengin Makmur langsung bisa larut dalam hiruk pikuk kehebohan tersebut. Ujung dari kehebohan nasional membuat Koperasi Ali Murah dinyatakan bangkrut alias pailit. Kasus pailit Koperasi Ali Murah ternyata disangkut pautkan dengan kehebohan nasional tetangga sebelah yang punya usaha biro umroh murah namun belakangan sering gagal (bahasa marketingnya tertunda) memberangkatkan jamaahnya. Konon jumlah jamaah yang masih antri untuk diberangkatkan ada puluan ribu dengan estimasi kebutuhan dana ratusan milyar rupiah sedangkan penelusuran sementara dana yang ada di biro tersebut tidak sampai segitunya (banyaknya).

Nah, apakah memang ada benang merah kedua kehebohan nasional tersebut? Kasak-kusuk yang berkembang, dana calon jamaah yang sudah disetor dengan paket umroh kelewat murah masuk ke skema investasi Koperasi Ali Murah agar bisa menutup harga paket umroh yang wajar (janji imbal balik 10% per bulan tentu sangat menggiurkan). Benar tidaknya, kita tunggu saja hasil investigasi pihak berwenang untuk melihat lebih jauh kehebohan tersebut. Dan yang pasti, masyarakat Negeri Pengin Makmur harus makin jeli dalam melihat setiap penawaran produk, termasuk investasi. Kisah sukses masa lalu yang dibuat kesan “seolah-olah sukses”  untuk testimoni, tentu tak menjamin masa depan, karena itu yang dulu sampai kini pernah populer dalam praktek skema investasi Ponzi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Best Services from Our Business.