Pinjam Tanpa jaminan: Cara Amartha Melakukan Penetrasi Bisnis ke Pelosok Pedesaan

Bagi masyarakat pedesaan, terutama yang memiliki usaha kecil menengah, modal merupakan kendala yang menyebabkan kurang berkembangnya produk yang mereka hasilkan. Tidak adanya tempat pinjam uang dan minimnya akses perbankan menjadi masalahnya namun juga mencari pinjaman tanpa jaminan.

Melihat kesulitan warga di pedesaan, Amartha yang mengawali bisnis sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM) mencoba menjawab harapan masyarakat di wilayah terpecil untuk bisa melakukan pinjam tanpa jaminan.

Meski kini telah bermetamorfosis dari LKM ke peer to peer lending, namun semangat berdirinya Amartha hingga saat ini tetap mengedepankan aspek sosial dan pemberdayaan bagi masyarakat yang ingin pinjam uang tanpa jaminan, khususnya di pedesaan yang kesulitan mencari tempat pinjam uang yang mudah selain bank.

Pinjam Tanpa jaminan: Cara Amartha Melakukan Penetrasi Bisnis ke Pelosok Pedesaan
Pinjam Tanpa jaminan: Cara Amartha Melakukan Penetrasi Bisnis ke Pelosok Pedesaan

Lantas, bagaimana cara Amartha untuk masuk dan diterima masyarakat di pelosok pedesaan? Untuk memperkenalkan tempat pinjam uang secara cepat berbasis teknologi.

Namun sebelum membahas hal ini, ada baiknya mengetahui sejarah singkat dan sosok berdirinya Amartha terlebih dahulu.

Tempat Pinjam Uang Selain Bank: Sekilas tentang Amartha

Amartha didirikan oleh Andi taufan Garuda Putra (29), di Ciseeng, Bogor, Jawa Barat. Sarjana lulusan S1 Manajemen Bisnis Institut Teknologi Bandung ini sebelum mendirikan Amartha adalah seorang konsultan bisnis untuk IBM Global Business Services selama dua tahun.

Perkenalannya lembaga keuangan mikro dimulai pada tahun 2008 saat melakukan pinjaman kecil untuk usaha kecil di sekitar Bandung dan Bogor.

Melihat kurangnya akses layanan keuangan perbankan konvesional bagi masyarakat kecil, Andi berinisiatif membuat tempat pinjam uang selain bank dengan sistemnya mudah dan tidak rumit dengan pola pembiayaan kelompok di mana satu kelompok terdiri dari 10-15 orang dengan sistem bagi hasil.

Kini, 6 tahun sudah Amartha berdiri dengan total modal tersalurkan mencapai lebih dari 41 milyar untuk perkembangan UMKM di pedesaan.

Total ada sekitar 25 ribu mitra Amartha di pedesaan yang telah terbantu berkat tempat pinjam dana yang mudah seperti Amartha.

Metamorfosis Amartha dari LKM ke peer to peer (P2P) lending juga diharapkan mampu memberikan kemudahan bagi para investor (pemodal) yang ingin mendapatkan keuntungan finansial dan sosial dalam sekali investasi.

Keuntungan finansial yang didapat berupa imbal hasil sesuai hingga 20 persen tergantung profil resiko dari UMKM yang akan didanai.

Sedangkan impact sosial didapatkan karena dana investasi tersebut digunakan untuk modal usaha UMKM yang dilakoni masyarakat pedesaan.

Dengan adanya modal dari para investor untuk UMKM di pedesaan diharapkan mampu menjaga stabilitas perekonomian nasional melalui usaha kerakyatan yang dijalani masyarakat Indonesia.

Bila sudah mengetahui sejarah singkat Amartha, berikut adalah cara Amartha melakukan peneterasi bisnis ke pedesaan dan mengenalkan tempat pinjaman uang yang mudah.

  1. Dalam menjalankan bisnisnya, Amartha masuk ke pedesaan melalui cara kooperatif. Dengan bersilaturahmi ke pemerintah setempat RT, RW, kelurahan, bahkan Kecamatan untuk menjelaskan cara kerja bisnis Amartha.

Ada beberapa hal yang dijelaskan, seperti: model bisnis, tujuan bisnis (memberikan akses keuangan untuk mendukug mereka para pengusaha mikro dan kecil), model pembiayaan syariah dengan mengedepakan akad dan kesepakatan untuk bagi hasil, dan pengertian bila Amartha tidak melakukan penyitaan harta benda jika peminjam gagal bayar dalam melakukan pinjam tanpa jaminan.

Amartha tidak melakukan penyitaan karena hal ini penting untuk ditekankan mengingat masyarakat prasejahtera di pelosok rentan menjadi korban rentenir/lintah darat yang meminjamkan uang dengan bunga dan risiko yang besar.

  1. Tim Amartha mengedepakan potensi wilayah dari produktivitas masyarakatnya. Contoh: Ciseeng kuat terhadap sektor pertanian, perikanan, hasil kerajinan, dan industri rumah tangga.

Selain itu Pangalengan, pertumbuhan ekonominya mayoritas berasal dari peternakan, pertanian, dan perkebunan. Tenjo dengan pertanian dan industri rumah tangga.

Sebagai tempat pinjam uang untuk modal UMKM, fokus pinjaman Amartha adalah Ibu ibu. Tentunya dengan produktivitas perempuan yang tinggi sangat penting dan pantas untuk disuntik dana demi mengembangkan bisnisnya dan membantu keuangan keluarganya.

  1. Amartha selektif (berhati-hati) dalam memilih wilayah. Caranya dengan bertanya kepada pemerintah setempat apakah di daerah tersebut sudah banyak pembiayaan dan kredit macet.

Amartha selektif dalam memilih daerah yang “sehat” dan memang membutuhkan pembiayaan untuk usaha mikro.

Dalam standar yang diterapkan Amartha, daerah dikatakan sehat bila jumlah Lembaga Keuangan Mikro tidak banyak tetapi ada, selain itu juga ada dealer motor, dan kuat potensi wilayahnya (sesuai poin kedua).

Dengan pola dan konsep pemilihan wilayah untuk penetrasi bisnis yang menerapakan koordinasi antar instansi menjadikan Amartha mampu berkembang dan diharapakan mampu melayani lebih banyak lagi masyarakat prasejahtera yang membutuhkan layanan keuangan yang dapat dipercaya.

hxxp://blog.amartha.com/pinjam-tanpa-jaminan-cara-amartha-melakukan-penetrasi-bisnis

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*