Otot Kebahagiaan

Pernah nggak anda dengar orang ngomong,”Wah ini orang masa kecilnya kurang bahagia!” Mungkin ngomongnya langsung kepada anda atau anda mungkin pernah bilang begitu juga kepada orang lain.

Kalau sampai ada yang ngomong gitu ke anak saya, sungguh saya akan protes. Karena segenap upaya telah saya lakukan kepada anak-anak kami untuk membahagiakan mereka. Tujuannya sederhana, agar otot bahagia mereka terlatih.

Jika otot bahagia sudah kekar, kuat dan terbentuk, maka otot semacam ini mampu mengangkat beban apapun. Orang semacam ini punya banyak memori bahagia dalam hidupnya. Hasilnya, ia terbiasa untuk menikmati hidup.

Otot Kebahagiaan
Otot Kebahagiaan

Apakah hanya jalan-jalan, piknik dan kasih hadiah?? Oooh tentu tidak. Saat anak pertama kami berusia 6 bulan, ia sudah terbiasa berziarah baik ke makam kakeknya, leluhur atau para ulama, usia 2 tahun, is sudah diajak ke kamp pengungsian saat banjir besar melanda Jakarta. Usia 3 tahun, ia sudah diajak mendaki gunung hingga ke puncak. Demikian pula kedua adiknya.

Jadi, apakah harus melulu ke mal, objek wisata dan jalan-jalan saja?? Nggak juga.

Mereka sering kami ajak berpetualang agar memiliki banyak memori baik dalam hidupnya. Kalau waktunya terbatas, seringkali kami hanya lepas di playground, mereka juga sering dilibatkan dalam aktifitas kami baik dalam maupun luar negeri. Saya ingin ajarkan mereka bahwa bekerja sembari senang-senang itu juga bisa.

Kami kenalkan dengan para tokoh, selebritis hingga ulama. Biarkan mereka terbiasa berada ditengah-tengah orang hebat. Kadang kami gilirkan siapa yang harus ambil tiket parkir, bayar tol, berbagi ke pengemis dan keliling tetangga membagikan bingkisan. Biarkan mareka terasah kecerdasan emosinya.

Kami kadang masuk hutan, mencari air terjun, memberi makan binatang, main masak-masakan sampai masak bareng-bareng (seringnya sih pesta seafood), itikaf di masjid, berlayar, karaokean, main hujan bareng dan hal-hal sepele lainnya.

Saya hanya ajak mereka untuk merasakan. Merasakan semua jenis moda transportasi. Perahu, kapal perang hingga becak dan bajai, segala merk Mobil. Abangnya keranjingan Lamborghini dan anak kedua kami bahkan pernah mengencingi Jaguar terbaru hehehe. Ajaklah ke pameran – pameran biarkan mereka melihat, merasakan, mengalami hal-hal baru.

Tapi ingat, jangan berikan kesempatan apapun yang berpotensi merusak kebahagiaan mereka. Sejak lahir, tak kami berikan sedikitpun kesempatan menyaksikan acara-acara di televisi. Tidak ada tivi menyala di rumah kami. Kecuali film yang sudah kami pilih di YouTube. Meskipun kadang mereka suka melihat tivi, tapi kami harus edukasi kembali perihal apa yang mereka tonton.

Kami hanya instruktur. Kami pelatih mereka agar otot bahagianya kokoh dan kuat. Waktu kita singkat, boleh jadi mereka sebentar lagi lebih sibuk dengan teman-temannya. Sementara fase terpenting dalam hidup mereka tak boleh hanya berisi gadget, tivi, mal, dan ingatan bahwa orang tuanya sibuk bekerja.

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*