Home   WHS Content Management   Contoh Artikel 900 Words   Mewaspadai Virus Informasi di Era Informasi

Mewaspadai Virus Informasi di Era Informasi

Salah satau dampak teknologi yang paling kita rasakan saat ini adalah mudahnya akses dan penyebaran informasi. Kemudahan akses tersebut bisa digunakan dalam banyak hal seperti berbisnis, berpolitik, personal branding dan lain sebagainya. Hal ini makin dipermudah dengan hadirnya sosial media seperti facebook, twitter, instagram dan sejenisnya seperti BBM WhatsApp yang bisa diakses melalui jand phone dan di lengkapi dengan fitur share untuk berbagi informasi. Resikonya juga sudah terlihat didepan mata, yaitu berita yang benar maupun berita palsu juga makin mudah tersebar. Prnsipnya di era banjir informasi ini, masyarakat jangan mudah percaya.

Setiap informasi yang tersebar melalui media online, sebaiknya masyarakat cek kebenarannya terlebih dahulu

Sikatp terbaik dalam menghadai era bebas informasi ini adalah selalu menjunjung sikap tidak cepat percaya atau tabayyun. Di era banjir informasi seringkali banyak kita jumpai informasi sampah atau hoax. Masyarakat harus pintar memilih dan memilah untuk dapat informasi yang benar karena banyak penyebar informasi sampah yang memiliki tujuan tidak baik.

Bagi masyarakat sendiri juga dihimbau agar tidak mudah menyebar informasi meski dari grup atau komunitas sendiri sebelum di cek kebenarannya. Banyak grup WA atau BBM yang sekarang ini share informasi dengan tambahan catatan sumber informasi dari grup sebelah. Tentu saja ini belum tentu akurat kecuali jika berasal dari link sumber media cetak, media elektronik, media online yang resmi terdaftar dan jelas siapa penanggungjawabnya.

Ingat, masyarakat harus paham bahwa menyebarkan berita yang tidak benar (berita hoax) bisa diancam dengan UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dengan ancaman oidana sampai dengan 6 tahun penjara. Simak lebih lanjut ulasan detil UU ITE tersebut berikut ini:

Penyebar hoax bisa terancam Pidana 6 Tahun Penjara pada Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE

Era teknologi informasi yang serba mudah dalam mengakses berita sering membuat orang tanpa sadar ikut berbagi berita yang beum tentu benar. Jika berita bohing (hoax) tersebut membahayakan kepentingan publik, pembuat berita maupun penyebar berita bohong tersebut baik sadar atau sekedar ikut-ikutan bisa terancam pidana.

Ancaman penyebar berita hoax tersebut adalah pidana penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang-Undang ITE menyebutkan bahwa, “Setiap orang yang dengan sengaja dan atau tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan, ancamannya bisa terkena pidana maksimal enam tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar.”

Beberapa hal yang perlu diwaspadai masyarakat adalah:

  • Banyak pesan pendek (SMS), maupun e-mail hoax yang berseliweran dan belum tentu benar infromasinya
  • Banyak yang ikut mem-forward, disadari atau tidak, juga bisa kena karena dianggap turut mendistribusikan kabar bohong.
  • Masyarakat jika mendapat pesan berantai yang hoax, agar tidak sembarangan menyebarkannya Idealnya, masyarakat melaporkan saja infromasi tersebut kepada polisi karena pesan hoax sudah masuk delik hukum.

Laporan masyarakat terkait berita yang perlu di cek kebenarannya akan diproses oleh pihak kepolisian, baru kemudian polisi bisa melakukan penyidikan dengan bekerja sama bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan segenap operator telekomunikasi.

Ingat, Bahaya Hoax Mengincar Kita di Era Informasi Ini

Hoax atau berita palsu di era teknologi informasi ini makin cepet tersebar dan ada kecenderungan orang sudah tidak peduli apakah berita yang dia terima benar atau tidak. Begitu langsung terima secepat itu juga di share ke publik. Hoax ini makin banyak dan mudah tersebar melalui SMS dan email, kini mulai berpindah ke pesan aplikasi chatting seperti WhatsApp atau BBM (BlackBerry Messenger).

Makin heboh dan menimbulkan ketakutan akan berita yang disebar, maka tujuan pembuat berita hoax makin tercapai. Perlu dikethu bahwa hoax membahayakan kondisi sosial di era teknologi ini dengan berbagai dampak seperti berikut ini:

Hoax mengurangi produktivitas dan efisiensi

Coba Anda perhatikan lingkungan atau grup WA dan BBM yang Anda ikuti. Berapa banyak waktu tersita akibat mereka begitu ramai menanggapi berita hoax ang belum tentu benar. Setidaknya menurut riset, setiap pekerja menghabiskan waktu 10 detik per hari untuk membaca email atau pesan hoax. Jika berlanjut tentu kerugian semakin bertambah.

Hoax merupakan bagian dari penipuan publik dan merusak karakter target yang diincar

Tak jarang penebar berita hoax mengirimkan berita palsu untuk tujuan meipu atau kegiatan ilegal lainnya. Dalam dunia politik, seringkali juga ditemukan tujuan berita bohong adalah untuk menyerang lawan politik untuk merusak karakter mereka.

Hoax mengincari kepanikan publik

Pembuat berita palsu paling puasa jika berita palsu yang mereka buat bisa menimbulkan kepanikan publik. Tak jarang, untuk menghentikan kepanikan, biasanya media massa atau media online harus membantu masyarakat dan mengklarifikasi bila kabar-kabar yang tersebar di meida online tersebut hanyalah hoax.

Generasi Millenial Paling Rentan dengan Bahaya Hoax

Generasi millenial yang lahir pada era tahun 1980-an hingga 2000-an—merupakan generasi yang erat kaitannya dengan dunia digital sejak mereka masih kecil. Generasi ini tentu saja dinilai paling rentan akan bahaya berita bohong atau hoax tersebut.

Indonesia harusnya bisa semakin maju dan produktif karena menikmati ‘bonus’ demografi di 2030 nanti, sehingga jangan sampai justru malah diisi oleh orang-orang yang tidak cerdas dalam bermedia sosial. Perlu sosialisasi akan bahaya dari penyebaran berita hoax itu sendiri kepada genarasi ini.

Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam setiap komunitas anti hoax adalah hal berikut ini:

  • Perlunya Code of Conduct, semacam aturan berkomunikasi dengan cerdas di media sosial, selain itu ada pula gerakan literasi media ke masyarakat, roadshow ke institusi pendidikan, seperti kampus, sekolah pesantren, ormas, ulama dan pemuka agama, budayawan dan banyak lagi.
  • Perlu makin digencarkan kampanye Masyarakat Indonesia Anti-Hoax adalah gerakan yang mengajak seluruh masyarakat agar peduli memerangi penyebaran informasi hoax di media sosial.
  • Gerakan Masyarakat Indonesia Anti-Hoax ini juga telah dibentuk di kota-kota lain. Cara kerjanya akan disesuaikan dengan kebutuhan daerah tersebut.

Dukung Menkominfo dalam Menertibkan Media Online Tak Jelas

Awal mula hoax adalh adanya sumber berita onlien yang tidak terkontrol. Oleh karena itu perlu kiranya kita dukung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang bekerja sama dengan Dewan Pers menertibkan media-media online yang tidak memiliki identitas jelas.

Dukungan tersebut bisa dalam bentuk bekerja sama untuk menanggulangi penyebaran berita hoax dan menyesatkan publik yang disebarkan oleh media-media ‘abal-abal’ tersebut. Berikut ini data yang pernah tercatat di Kemenkomnfo terkait bahaya medio online dan hoax yang tidak jelas tersebut:

  • Berdasarkan data Dewan Pers ada 40.000 yang mengklaim diri media online, tapi yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers sebagai media yang sebenarnya tak lebih dari 300. Ciri dari media tidak jelas itu salah satunya adalah ketidakjelasan nama dan identitas jajaran redaksi.
  • Belakangan ini Kominfo telah memblokir 11 situs lagi yang dianggap melemparkan provokasi berbau SARA.
  • Dari data yang diterima, sekitar 90 persen atau 767.888 situs pornografi juga sudah diblokir oleh Kominfo sepanjang tahun 2016. Kominfo juga sudah memblokir konten perjudian sebanyak 3.755 situs.

Hadang Cybercrime, Kemenkominfo Bekerjasama dengan Penggiat Informasi Teknologi

Melihat potensi ancaman kejahatan di dunia maya yang semakin meningkat, maka Kementerian Komunikasi dan Informatika semakin giat bekerja sama dengan komunitas penggiat teknologi informasi untuk menghadapi cybercrime, salah satunya melalui konferensi internasional bertajuk ‘Indonesia Information Security Forum (IIS). Acara ini jadi bentuk concern pemerintah untuk mewaspadai potensi ancaman keamanan informasi di era digital.

Tujuan mengadakan kerjasama dengan komunitas penggiat teknologi informasi tersebut adalah:

  • Berbagi informasi perkembangan soal keamanan informasi saat ini.
  • Menggalang komitmen secara konkret bagi penguatan upaya menghadapi beragam ancaman cybercrime.
  • Perkembangan penggunaan internet saat ini meningkat pesat yang di antaranya ditandai dengan berbagai pembangunan infrastruktur dan konten IT sehingga perlu kerjasama yang baik untuk mengatasi resiko yang siap mengancam di era teknologi tersebut.
  • Gangguan keamanan informasi tersebut bisa saja meliputi spoofing, spamming, sniffer, cracker, hacker, cyber terorist, serbuan virus dan sebagainya.

Kesimpulan

Kemajuan teknologi memang telah mengubah peradaban manusia, salah satunya dalam hal berbagi informasi. Banyak peluang baru di berbagai bidang terbuka dengan adanya teknologi ini, namun tak jarang juga resiko yang siap mengancam kita. Salah satunya terkait penyebaran berita bohong atau hoax.

Masyarakat harus paham bahwa kemudahan berbagi berita ada aturan main yang harus dipenuhi. UU ITE telah mengatur ancaman pidana bagi pelaku yang membuat berita bohong maupun pihak yang ikut menyebarkannya baik sengaja atau tidak. Pemerintah telah berupaya kuat menanggulangi masalah ini dengan berbagai cara, masyarakat harus mendukung upaya tersebut agar berhasil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Best Services from Our Business.