Mental Gratisan, Lingkaran Setan yang Butuh Tindakan “By Pass” untuk Penyembuhan

Oleh: Wahyudi Hari Siswanto

Ada sebuah teori ekonomi yang cukup fenomenal mengungkap tentang kekayaan, dimana 50% uang di seluruh dunia ini dikuasai oleh 1% orang, dan kalaupun saat ini dibagi rata ke semua orang, maka dalam waktu 5 tahun uang tersebut akan kembali ke posisi semula. Walau terkesan bombastis, tapi itulah faktanya. Banyak teori yang akhirnya mengulas tentang kerja keras dan kerja cerdas. Kerja keras belum menjamin kaya, dan kerja cerdas bukanlah kerja malas terus jadi kaya seperti bahasa promosi beberapa seminar yang bisa jadi sering anda temui. Kerja cerdas adalah kerja lebih keras dengan bantuan sistem yang rapi.

Mental Gratisan, Lingkaran Setan yang Butuh Tindakan “By Pass” untuk Penyembuhan
Mental Gratisan, Lingkaran Setan yang Butuh Tindakan “By Pass” untuk Penyembuhan

Apa kaitannya dengan mental gratisan seperti judul artikel diatas? Setidaknya beberapa kali masyarakat kita mendapatkan kritik membangun tentang banyaknya yang punya mental gratisan. Mental gratisan maunya serba gratis. Mau ilmu pengetahuan, tapi malas berkorban waktu, tenaga, dan uang. Mau ini-itu, tapi malas sekali mengeluarkan biaya dan sumber daya. Untuk stadium dini, mental gratisan punya gejala pemburu diskon, promo, sampai mudah terjebak pada penawaran produk yang diluar kewajaran. Sedangkan stadium akut, mental gratisan mengarah kepada kondisi peminta-minta dalam berbagai bentuk entah bantuan sosial, atau yang terang-terangan. Celakanya lagi mental gratisan punya saudara dekat yang namanya kemalasan.

Pertanyaannya apakah masayarakat kita pemalas? Jelas tidak! Di kampung saya tiap shubuh orang sudah pada berangkat ke sawah, pulangnya sore. Di kawasan industri batam tempat saya pernah bekerja juga begitu workaholik-nya. Bagi yang bisnis online yang lagi tren belakangan ini juga lebh fenomenal, sampai jam 00.00 pun masih bekerja berburu dolar. Rata-rata mereka bisa bekerja 12 jam sehari. Tapi, mengapa juga hasilnya belum seberapa? Dan yang muncul adalah kesan mental gratisan diatas?

Kesan mental gratisan sudah muncul sejak lama, bahkan di belahan dunia lain, di negeri maju sekalipun. Kono khabarnya, di Inggris saat diperintah Margaret Thatcher, tahun 80-an, ingin merubah mental warganya mnjadi kuat sekuat besi. Sistem negara kesejahteraan dirombak dengan menghapuskan semua subsidi yang diberikan negara kepada orang orang miskin di sektor pendidikan, kesehatan, transfer bantuan langsung tunai, dan lainnya. Ada semacam keyakinan, bahwa manusia harus bisa survive layaknya besi yang lemah biarkan mati, orang-orang produktif tidak boleh mensubsidi orang-orang malas. Kebijakan ini membuat Thatcher dikenal sebagai Wanita Besi (Iron Lady). Haruskah se-ekstrim itu?

Mental gratisan layaknya sebuah lingkaran setan. Jika dilihat kondisi masyarakat kita, dalam banyak hal mereka bukanlah pemalas, walau yang terlihat mencolok adalah yang suka meminta-minta dengan berbagai cara. Disisi lain, dalam banyak kasus, masih saja kita dengar berita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan banyaknya tangkapan yang seolah tak ada habisnya.

Mental gratisan, selain punya saudara dengan nama kemalasan, ternyata juga punya kawan dekat mental koruptif dan juga mental serakah. Jika yang punya kuasa terserang penyakit mental koruptif, maka iklim usaha jadi tidak kondusif yang mengakibatkan hilangnya pasar yang sempurna tempat rakyat bisa bekerja dengan baik. Biaya lain-lain yang besar membuat produk dan jasa tidak kompetitif, dan perlahan bisa mendorong pengusaha menjadi serakah. Dampak lanjutannya pasar tenaga kerja makin sempit. Konon khabarnya, saat ini penyerapan tenaga kerja per 1% pertumbuhan semakin kecil, hanya 200 ribuan saja yang sebelumnya pernah 1 % pertumbuhan ekonomi bisa menyerap 500.000 tenaga kerja.

Upah buruh semakin kecil, karena banyak dibebani biaya biaya siluman dan digerus mental serakah dari pengusaha tadi. Jadi, masyarakat terjangkit mental gratisan, persoalan struktural yang ada, seperti korupsi, upah murah, lapangan kerja sempit dan sebagainya ibarat sebuah lingkaran setan yang saling terkait dan susah membedakan mana ujung dan pangkalnya.

Saya jadi teringat pernah konsultasi dengan dokter spesialis jantung terkait penyebab denyut nadi diatas normal. Ternyata masalah dan dampaknya bisa jadi komplek dan saling terkait layaknya lingkaran setan. Hal yang harus dilakukan adalah memilih jalur lingkaran yang paling bisa untuk dipotong agar denyut jadi normal. Jika ini dikaitkan dengan mental gratisan, jalur manakah yang bisa dipotong?

Merubah mental bukanlah perkara mudah. Sebuah kebiasaan yang berulang akan menjadi karakter, karakter yang dilakukan bersama-sama bisa jadi budaya. Tugas kita sekarang mencegah mental gratisan agar jangan masuk ke budaya gratisan. Memotong persoalan struktural juga bukan perkara yang mudah juga. Sama seperti kasus penyakit jantung, jika terapi gaya hidup sudah dijalani pasien tak juga menyembuhkan penyakit, maka opsi tindakan operasi by pass bisa dilakukan dokter.

Dalam kasus mental gratisan, sudah selayaknya pemegang kuasa melakukan hal yang sama demi denyut nadi ekonomi yang normal menuju sehat. Dampak mental gratisan juga bisa menimbulkan komplikasi penyakit yang tak kalah seriusnya, hobi ngutang, matinya kreativitas dan kerja keras, rasa malas termasuk malas bayar hutang, dan berbagai penyakit kronis lainnya. Jika penyebab dan dampaknya rumit di urai, tindakan layaknya operasi “by pass” memang mutlak diperlukan. Bagaimana caranya? Terserah pemilik kuasa, jalur mana yang akan di by pass. Kita tunggu saja hasilnya!

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*