Membedah Strategi China jadi Lumbung Pangan Terbesar di Dunia, Indonesia Kapan?

 

Salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar didunia saat ini adalah China. Jumlah penduduknya hingga mencapai 1,4 miliar orang. Hal ini menjadikan pemerintah China perlu memutar otak untuk memenuhi kebutuhan pangan warga negaranya agar tercukupi. Tentu bukan perkara mudah, mengingat China tidak punya tradisi lumbung pangan dunia.

Tampaknya China cukup cerdik akan hal ini. Dilansir dari kompas.com, masalah kebutuhan pangan yang demikian besar mendorong pemerintah China untuk banyak membeli ataupun menyewa lahan pertanian yang ada pada negara-negara berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Selatan.

China berkeinginan untuk mampu menjadi lumbung pangan terbesar di dunia yang bisa memenuhi kebutuhan pangan hingga 9 miliar orang. Apalagi melihat reformasi industri yang kini mengubah kondisi pertanian di China. Jika sebelumnya di setiap keluarga memiliki usaha pertanian beras dan gandum, kini tergantikan dengan industri untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang lebih suka mengkonsumsi daging sapi dan susu.

Tak pelak, kini pemerintah China gencar mengembangkan teknologi peternakan dan pertaniannya. Konsumsi daging di China perkapita mencapai 39,4 kg per tahunnya. Semakin tingginya permintaan pangan rupanya tidak sebanding pula dengan lahan subur di China yang justru makin menyusut sebab banyaknya pembangunan pabrik dan juga efek lain dari adanya pencemaran lingkungan.

Lingkungan yang tercemar limbah industri ini memberi dampak negatif yaitu adanya penemuan beras yang mengandung merkuri, susu bubuk yang terinfeksi oleh bahan melamin dan adanya sayuran yang mendapat paparan logam.

Ada dua hal yang dilakukan pemerintah China saat ini, yaitu ekspansi memperbesar kapasitas produksi khususnya untuk produksi daging olahan, dan juga ekspansi untuk perluasan lahan pertanian untuk kebutuhan pokok gandum. Pemerintah China mendorong perusahaan China WH Group mengakuisisi Smithfield Foods Inc. pada tahun 2013 untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti sosis dan daging China tercukupi.

Dari sisi perluasan lahan, kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan tersebut menjadikan China gencar mencari negara berkembang yang belum banyak memanfaatkan lahannya. Bloomberg melansir, China telah masuk ke Mozambil untuk memenuhi kebutuhan gandumnya hingga di tahun lalu, China diprediksi memiliki cadangan gandum lebih dari 600 juta ton gandum.

Negara luar dengan riwayat pertanian bagus tak lepas dari incaran China. Kini, China sukses membeli dan menyewa lahan pertanian pada beberapa negara yang punya teknologi pertanian yang baik seperti Missouri Amerika Serikat, Brasil, Kamboja dan juga Australia. Di internal dalam negeri, pemerintah China juga menghimbau warganya untuk memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam tanaman kebutuhan dapur.

Melalui empat pendekatan, China mereformasi sektor pertaniannya yaitu pada kontrol pasar, pembatasan lahan yang tidak menguntungkan, efisiensi pertanian dan impor. China banyak berinvestasi untuk sistem perairan, penggunaan robot, benih, pengembangan peternakan dan juga memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat polusi industri.

Teknologi pertanian yang dipakai China juga sudah maju. Adanya penggunaan pesawat tak berawak untuk menyemprot pupuk dan menyemprot pestisida untuk hama dan penyakit, juga teknologi untuk menangani kebutuhan air hingga adanya kontrol pemberian dosis pestisida yang bisa dipantau lewat komputer.

Tidak hanya itu, China juga melebarkan sayapnya dengan banyak bermitra dengan negara-negara yang lain. Misalnya saja kerjasama dengan negara Selandia Baru dan Australia dalam produksi salmon asap, keju dan susu. Beberapa kerjasama dengan Jepang dalam memproduksi mie instan bebas minyak nabati juga mulai dirintis. Hasilnya, kini China dikenal sebagai negara yang memiliki teknologi pengolah mie instan paling maju di dunia.

China, selain struktur ekonomi yang tangguh, mereka juga mempedulikan nasib pangan masyarakatnya. Sektor pertanian dan peternakan menjadi pilar ketahanan pangan negara tersebut. Menjadi lumbung pangan terbesar di dunia adalah target mereka berikutnya. Bagaimana dengan Indonesia?

Hendaknya Indonesia juga berkaca dari upaya yang dilakukan China untuk terus memenuhi kebutuhan pangan dengan memperbaiki sektor pertanian dan peternakan. Dilansir dari viva.co.id, hanya satu pertiga dari wilayah daratan Indonesia yang bisa ditanami atau sekitar 60 juta hektare (luas lahan Indonesia per kapita hanya 0,25 hektare, di Vietnam, dan Thailand rata-rata 3,5 hektare per kapita). Luas lahan yang ada di Nigeria sebesar 72 juta hektare, Vietnam 90 juta hektare lebih.

Problem lain pemenuhan kebutuhan pangan di tanah air adalah makin banyak sawah beralih jadi perumahan atau industri. Tanpa strategi jangka panjang yang tepat, Indonesia akan terus terjebak dalam kebijakan impor beras untuk memenuhi standar ketahanan pangannya.

Belajar dari strategi China diatas, jika tak mampu sewa lahan di luar negeri, setidaknya jangan sampai kita mengurangi lahan yang sudah ada. Strategi berikutnya, pemanfaatan teknologi jadi solusi untuk peningkatan produktivitas pangan kita. Tak ada salah kita menjalin kerjasama dengan negara teknologi maju lain selain mengandalkan riset untuk solusi masalah ini.

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*