Konsep Rezeki dalam Islam, Dijemput walau telah dijamin oleh Allah

 

Setiap saat kita diingatkan untuk selalu meningkatkan taqwa kita kepada Allah SWT. Kita juga dipanggil untuk mengindahkan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan semua yang telah dilarang Allah bagi kita. Termasuk dalam menjemput rejeki. Allah-lah yang menentukan rezeki kita sehingga kita tidak perlu khawatir akan pemberian rejeki dari Allah SWT.
Dilansir dari **hizb.org.uk**, Allah SWT memberikan rezeki kepada seluruh umat manusia, apakah mereka orang beriman atau tidak beriman, dan semua ciptaan-Nya termasuk hewan dan tumbuhan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Hud ayat 6 yang artinya: _“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)._ **(QS. Hud:6)**

Sumber:_
Hidup dalam jaman kapitalis saat ini, seperti dilansir dari **hizb-australia.org** mendorong kita untuk mengadopsi pandangan materialistik terhadap dunia di mana usaha dikompensasikan secara sepadan dalam pendapatan dan kekayaan. Dengan demikian, orang sering merasa bahwa mereka bertanggung jawab penuh untuk menciptakan kekayaan dan kesempatan mereka sendiri.
Padahal mengenai rejeki itu sendiri, syariah Islam sudah menjelaskan bahwa semua makhluk yang berakal maupun yang tidak berakal rizkinya telah dijamin oleh Allah. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, meriwayatkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia dan bersabda yang artinya: _“ Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.”_ **(HR. Muslim 6893)**.

 

Sumber:_
Walaupun kepala keluarga yang mencari nafkah, namun sejatinya rizki mereka adalah dari Allah dan kepala keluarga yang mencari nafkah hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya.
Dalam _Kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah_, Ibnu Katsir menceritakan bahwa ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, bahwa: _“Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.”_ Orang inipun terdiam. **(al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510)**.

 

Sumber:_
Syariah Islam mengajarkan kepada kita bahwa walaupun rejeki di jamin oleh Allah SWT namun kita harus bekerja keras menjemput rejeki dan tidak boleh serta merta menganggap bahwa semua telah ditaqdirkan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: _“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.”_ **(HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).**

Sumber:_
Hadis diatas mengajarkan kepada kita tentang keyakinan bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya dengan kata lain siapapun yang hidup pasti diberi jatah rizki oleh Allah SWT sampai dia mati.
_Kitab Sunan al-Kubro 9640_ meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: _”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.”_ **(HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640, dishahihkan Hakim dalam Al-Mustadrak 2070 dan disepakati Ad-Dzahabi)**.

 

Sumber:_

Beberapa dalil diatas mengajarkan kepada kita tentang konsep rizki dalam Islam. Adalah benar rizki manusia telah ditaqdirkan, tapi kita harus menjemputnya dan tidak boleh berpangku tangan. Taqdir adalah rahasia Allah, dan tidak boleh dijadikan alasan untuk berdiam diri menunggu taqdir.
Imam Ahmad memberikan penjelasan tentang HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth bahwasanya _”Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki.”_

 

Sumber:_
Ada kisah yang diriwayatkan oleh Syaikh Shalih al-Maghamisi bahwasanya dahulu kala ada seorang lelaki jatuh ke dalam sumur dan berhasil diselamatkan. Lalu seseorang menyodorkan kepadanya segelas susu untuk diminimum. Setelah tenang orang bertanya bagaimana bisa dia terjatuh ke sumur tersebut.
Orang ini lantas bercerita sambil mempraktikan kronologi saat ia terjatuh kedalam sumur. Sudah menjadi taqdir, tanpa di sengaja orang itu terjatuh lagi ke dalam sumur dan akhirnya mati.
Kisah ini memberi pelajaran kepada kita bahwa orang itu diselamatkan oleh Allah karena masih tersisa jatah rezekinya di dunia,

yakni satu gelas susu untuknya. Setelah jatah rezeki disempurnakan untuknya, ia terjatuh di tempat  yang sama kemudian mati.

Islam juga mengajarkan kepada kita bahwa sesungguhnya rizki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Apa yang kita buru setiap hari belum tentu menjadi jatah rizki kita.

Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, meriwayatkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: _”Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat._ **(HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya)**.

Hal ini memberi pelajaran kepada kita bahwa sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya. Contoh gampangnya adalah  orang yang punya 1 kwintal beras, hanya akan mampu makan sepiring saja. Begitupun orang yang memiliki 10 mobil, maka hanya 1 saja yang bisa dia manfaatkan. Itulah hakekat rizki menurut Islam, apa yang kita konsumsi dan apa yang kita manfaatkan.

 

 

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*