Kisah Driver GO-JEK yang Sisihkan Pendapatan Agar Bisa ke Tanah Suci

Bagi umat Islam, menjejakkan kaki ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji adalah impian terbesar. Tak terkecuali bagi Nurwahid, seorang driver GO-JEK yang tinggal di daerah Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Bagi Nurwahid, naik haji adalah hal yang sangat ia inginkan sejak masih kecil. Itu lah mengapa, ia begitu bersemangat mengikuti program tabungan haji yang diadakan oleh GO-JEK bagi para driver-nya.
“Saya sudah ikut sekitar sepuluh bulan ini, alhamdulillah,” ungkap Nurwahid di Kantor GO-JEK, Pasaraya Blok M, Jakarta, Jumat (5/1).

Kisah Driver GO-JEK yang Sisihkan Pendapatan Agar Bisa ke Tanah Suci
Kisah Driver GO-JEK yang Sisihkan Pendapatan Agar Bisa ke Tanah Suci

Dalam program tersebut, para driver yang mendaftar diberikan dua pilihan jumlah setoran harian. Ada yang Rp 15 ribu per-hari, ada pula yang Rp 30 ribu.
“Saya setiap hari setor Rp 30 ribu. Itu langsung dipotong dari saldo saya,” ujar Nurwahid.
Saldo yang dipotong, membuatnya semakin bersemangat untuk mengaspal. Sebab, bayangan tanah suci selalu menjadi motivasinya dalam bekerja.
Sebab, dari uang yang terkumpul tersebut, Nurwahid mengaku baru sekitar 2 tahun ia bisa mendaftarkan kursi peserta haji. Setelah itu, ia bisa langsung membayar lunas sisanya atau melanjutkan tabungan haji.
“Itu tergantung orangnya masing-masing. Kalau saya bisa bayar sisanya langsung, ya alhamdulillah,” tambahnya.

Nurwahid bersyukur, bisa bergabung menjadi driver GO-JEK. Tak hanya didekatkan dengan impiannya naik haji, kondisi ekonomi keluarganya pun membaik.
Sebelumnya, Nurwahid berprofesi sebagai tukang ojek yang khusus antar-jemput siswa. Setiap hari, ia bertugas mengantarkan dan menjemput anak-anak yang sudah menjadi langganan jasanya.
“Waktu itu ada sekitar 3 keluarga. Satu keluarga ada beberapa anaknya. Sekarang masih ada dua keluarga yang langganan saya,” jelasnya.
Usai bertugas, terkadang Nurwahid juga menjadi tukang antar panggilan. Ia siap mengantar ke mana saja jika ada yang meminta.
“Waktu itu juga belum ada GO-JEK, jadi kalau ada yang manggil saya, ngehubungin saya, ya saya antar,” ungkapnya.

Nurwahid baru mencoba mendaftar saat diajak oleh adik sepupunya. Meski, ia mengaku sudah tahu GO-JEK sejak lama, namun keinginannya untuk mendaftar baru bisa direalisasikan saat bertemu dengan adik sepupunya tersebut.
“Saya masih antar jemput, tapi juga di GO-JEK. Jadinya jalan terus,” ujar Nurwahid yang mengaku tidak punya target pendapatan dalam satu hari.
Selain tidak menetapkan pendapatan atau jumlah customer dalam satu hari, Nurwahid punya prinsip ia harus sudah pulang saat waktu salat maghrib tiba. Sebab, baginya, waktu beribadah tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Kalau menjelang maghrib, saya pasti pulang. Itu kan waktunya ibadah. Setelah itu ya sudah, itu waktu istirahat dan bersama keluarga,” jelasnya.
Tidak hanya itu, saat waktu salat zuhur dan asar, Nurwahid juga beristirahat. Namun, ia mengaku belum tentu bisa menemukan masjid saat waktu salat tiba.
“Kalau sudah begitu, ya sudah, di mana saja asal bersih. Tapi kan tidak bisa lama-lama, karena kan kita parkir juga tidak bisa lama-lama. Enggak aman,” jelasnya.

Nurwahid pun bersyukur, meski waktu mengaspalnya terbilang tidak terlalu panjang, namun yang penting semua kebutuhan keluarganya terpenuhi. Ia juga menyebutkan, dengan menjadi driver GO-JEK, ia bisa menentukan sendiri jam kerjanya.
“Mau libur, mau masuk. Jam berapapun, kita yang tentukan sendiri,” ujarnya.
Dengan begitu, Nurwahid kini bisa benar-benar membagi waktunya untuk fokus beribadah dan menjalankan kewajibannya mencari rejeki. Apalagi, kini ia sedang dalam masa penantian mendekati ibadah haji yang kini sudah di depan mata.

 

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*