Investasi Syariah di Amartha, Bagi Hasil Bagi Rugi, Hindari Riba

Amartha
Pilihan Investasi Syariah, Solusi Hindari Riba

Salah satu bentuk investasi yang saat ini sedang hangat dibicarakan banyak orang ialah investasi syariah. Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk dapat menjadi pusat bagi perkembangan produk investasi berbasis syariah, baik di tingkat global maupun regional. Hingga akhir 2015 lalu, pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan non-syariah. Dilihat dari sisi produk, jumlah saham syariah tercatat 318 saham atau 62% dari total kapitalisasi pasar saham Indonesia. Sedangkan jumlah saham non syariah sendiri hanya sebesar 38%. Ini menunjukkan berkembangnya minat pasar terhadap investasi berbasis syariah.

Investasi syariah merupakan pilihan yang tepat jika Anda adalah ingin berinvestasi dengan prinsip bagi hasil dan bagi rugi serta tidak berurusan dengan riba. Transaksi investasi tersebut didasari dengan prinsip bahwa setiap aqad pembiayaan bukan transaksi perdagangan uang melainkan transaksi pembelian aset atau pembayaran jasa dengan tujuan transaksi yang transparan, adil, dan bertanggung jawab.

Secara umum produk investasi syariah ini sama dengan investasi konvensional yang telah dikenal oleh masyarakat luas. Namun ada beberapa prinsip syariah yang membedakan produk investasi ini dengan produk investasi konvensional lain, Amartha contohnya. Produk investasi syariah di Amartha bertujuan menjembatani akses permodalan untuk masyarakat pedesaan yang tidak terjangkau layanan perbankan atau dapat disebut social financing.

Transaksi syariah yang diterapkan oleh Amartha sebagaimana dimaksud, tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, zalim, risywah, barang haram dan maksiat. Prinsip pembiayaan berbasis syariah di Amartha sendiri menerapkan berbagai aturan sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia No: 7/46/PBI/2005 terutama mengenai Penyaluran Dana dengan Prinsip Syariah. Prinsip pembiayaan berbasis syariah di Amartha antara lain:

1.   Larangan bunga (Riba) tapi menerapkan sistem bagi hasil

2. Pembagian risiko dan tidak ditetapkan keuntungan pasti sejak awal

3. Misi pengembangan sosial

4. Larangan perilaku spekulatif

5. Kemurnian kontrak kerjasama

6. Mendorong pembiayaan berbasis aset bukan perdagangan uang

7. Transaksi yang dijalankan secara transparan dan akuntabel

Aqad antara Pemodal dan Peminjam telah disusun berdasarkan prinsip syariah. Dalam transaksi pembiayaan yang diberikan oleh lender kepada mitra ini, terdapat tiga Aqad yang digunakan, yaitu Aqad Al Murabaha, Al Ijarah serta Al Hiwalah. Disesuaikan dengan tujuan pengajuan pembiayaan.

Ada tiga jenis mekanisme investasi yang dijalankan di Amartha. Pertama, sistem bagi hasil. Jika Anda melakukan kegiatan investasi di Amartha, keuntungan yang diperoleh bukan dari bunga, namun keutungan diperoleh melalui sistem bagi hasil.

Kedua, sistem pembagian risiko antara Pemodal dan Peminjam. Pemodal dimungkinkan untuk mengalami kehilangan dana apabila mengalami kerugian usaha karena kondisi yang tidak diharapkan sehingga memungkinkan pemodal untuk tidak mendapatkan kembali modal investasi yang sudah disalurkan.

Ketiga, tidak adanya denda atau penalty jika mengalami keterlambatan angsuran. Namun jangan khawatir, Amartha telah menyeleksi dengan ketat calon peminjamnya, hal ini bertujuan untuk meminimalisir risiko gagal bayar. Selain itu, terdapat berbagai proteksi lainnya seperti adanya group lending, proteksi Dhanapati serta asuransi pada peminjam bila meninggal dunia. Hal ini tentu akan menambah keamanan dan kenyamanan Anda dalam berinvestasi, dengan adanya transparansi dan akuntabilias pada setiap transaksi yang dijalankan.

hxxp://blog.amartha.com/investasi-syariah-di-amartha-bagi-hasil-bagi-rugi-hindari-riba/

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*