Dokter dan Pelatih Renang

Dokter dan pelatih renang bisa jadi dua profesi yang gak ada hubungannya. Saat dokter bilang, “saudara kurang olah raga, dan olah raga kardio yang bisa dijadikan pilihan ada 4: jalan kaki, bersepeda, lari dan renang, maka ke-4 alternatif tersebut saya coba satu per satu.

Jalan kaki ternyata sudah tidak menarik lagi karena kesannya kurang macho dan kurang dahsyat dampaknya. Lari, sejak beberapa minggu terakhir sering kejar-kejaran dengan anjing di sepanjang lintasan lari sepanjang perumahan membuat lari bukan menguatkan otot jantung, malah membuat otot jantung bekerja lebih keras berpacu dengan suara anjing “guk, guk, guk”.

Bersepeda awalnya cukup menarik dilakukan sambil melihat hijaunya padi dan sawah sepanjang lintasan. Namun khabar buruk muncul, belakangan bersepeda terlau sering (lebih dari 10 jam per hari) bisa memicu munculnya impotensi.

Jelas ini jauh lebih tidak macho dibanding jalan kaki. Pilihan akhirnya jatuh pada renang. Anda tahu betapa sulitnya usia dewasa diajari renang? Pagi-Sore rutin saya nyemplung ke kolam renang, karena dokter bilang, “saudara kurang gerak”. Repotnya lagi kolam renang yang tersedia kedalamannya persis posisi mulut dan telinga terendam.

Dan ajaib hasilnya…hanya tempo 1 bulan saya bisa berenang. Renang Gaya Sembarang, setidaknya untuk menghindari agar mulut dan telinga tidak terendam. Praktis tanpa pelatih. Anda mau mencobanya?

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*