Home   Pojok Syariah   Dalam Perkawinan Islami, Bagaimana Hukumnya Istri Menggugat Cerai Suami yang Impoten?

Dalam Perkawinan Islami, Bagaimana Hukumnya Istri Menggugat Cerai Suami yang Impoten?
Dalam Perkawinan Islami, Bagaimana Hukumnya Istri Menggugat Cerai Suami yang Impoten?

Melakukan hubungan intim antara suami dan istri merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi oleh masing-masing pasangan. Kehidupan rumah tangga akan seimbang dan juga harmonis jika nafkah batin terpenuhi. Sebab tidak hanya seorang suami, istri juga memiliki nafsu seksual, bahkan ada pula yang melebihi para laki-laki. Dalam pemenuhan kebutuhan bathin ini, sesungguhnya wanita sama dengan laki-laki.

Dalam Perkawinan Islami, Bagaimana Hukumnya Istri Menggugat Cerai Suami yang Impoten?

Dalam Perkawinan Islami, Bagaimana Hukumnya Istri Menggugat Cerai Suami yang Impoten?

Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin rahimahullah pengarang beberapa kitab terkenal seperti Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’, 15 jilid, Risalah fi Hukmi Tarikis Shalah, dan Risalah fi Mawaqiti Ash-Shalah pernah mengatakan bahwa jika seorang laki-laki mendatangi istrinya handaklah ia berbuat baik kepadanya. Sebab wanita juga memiliki syahwat seperti laki-laki. Wanita juga memiliki keinginan. Adalah termasuk sedekah jika ia mendatanginya istri dengan berbuat baik.

Lalu bagaimanakah jika seorang suami yang sudah semestinya memenuhi kebutuhan batiniah istri, tak bisa ia penuhi sebab mengalami impoten? Dalam hal ini perlu dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan impoten. Impoten yaitu kondisi dimana seorang pria ataupun suami tidak dapat mempertahankan ketegangan pada organ intimnya ketika berhubungan suami istri, sehingga istri tidak merasakan puas dalam berhubungan dengan suami.

Padahal jelas suami memiliki kewajiban untuk memberi nafkah batin pada istri. Dalam hal ini diterangkan bahwa istri perlu memberikan kesempatan pada suami untuk mengobati impotennya dengan memberi waktu selama satu tahun.

Apabila telah melewati satu tahun dan sang suami belum menujukkan tanda kesembuhan, maka istri boleh menuntut fasakh yaitu sebuah perceraian dengan kepeutusan dari hakim. Jika di Indonesia, istri mengajukan fasakh ke KUA.

Seperti yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimullah, seorang Mufassir dan ahli fiqih, pengarang banyak buku, salah satunya adalah Tafysiir al-Kariim ar-Rahmaan Fii Tafsiir Kalaam al-Mannaan pernah mengungkapkan bahwa ““Jika istri mendapati suaminya impoten, maka ditunda (diberi waktu kesempatan) satu tahun, jika telah berlalu dan suami masih impoten maka istri berhak mengajukan fasakh.”

Ibnu Qudamah dalam kitab al-Mughni juga menjelaskan: “ Wanita yang melaporkan bahwa suaminya tidak bisa berhubungan karena impoten…. [lalu Ibnu Qudamah menjelaskan apa yang harus dilakukan hakim]… dan ditunggu selama setahun, menurut pendapat banyak ulama. sementara diriwayatkan dari al-Harits bin Rabi’ah, dia ditunggu selama 10 bulan”. (al-Mughni, 7/604).

Dalam ajaran Islam perceraian berarti perpisahan atau pemutusan hubungan antara suami dan istri dari hubungan perkawinan yang sebelumnya berstatus sah menurut agama. Ketika mengetahui sang suami mengalami impoten dan istri merasa tidak puas, maka ia boleh emngajukan cerai setelah menunggu satu tahun.

Lalu mengapa harus menunggu satu tahun? Hal ini kemudian beliau terangkan kembali alasannya yaitu menunggu sampai berlalu empat musim sebab bisa jadi ia tidak mampu melakukan jima’ (lemah) sebab pengaruh cuaca yang dingin. Apabila dingin hilang maka datang kekuatan (bisa tegak dan jima’). Atau bisa juga disebabkan cuaca  panas. Maka dari itu ditunggu selama empat musim berlalu. Apabila satu tahun berlalu tanpa adanya perbaikan seperti melakukan pengobatan, maka istri berhak untuk mengajukan permintaan cerai pada hakim.

Imam Ibnu Utsaimin memiliki pendapat terkait hal ini, seperti dituliskan dalam kitab as-Syarh al-Mumthi, yang artinya: “Jika dokter yang berpengalaman dan amanah menetapkan bahwa kemampuan seksual suami tidak akan lagi kembali, maka tidak ada manfaatnya dilakukan penantian”. (as-Syarh al-Mumthi’, 12/207).

Namun ada baiknya jika istri bersabar untuk mendukung suami bisa memperbaiki diri dan tidak terburu-buru untuk mengajukan fasakh atau meminta cerai. Sebab dukungan atau motivasi istri akan membantu suami untuk bersemangat dalam pengobatannya.

Secara medis banyak disebutkan bahwa penyakit impoten disebabkan karena gangguan psikologis. Sehingga adanya dukungan istri di sampingnya tentu dibutuhkan oleh suami untuk memperbaiki keadaan psikologisnya. Sebab seperti yang kia pahami pula bahwa tugas seorang istri yaitu berbakti kepada suami, sehingga rasanya tidak cukup baik apabila kemudian sang istri meninggalkannya sebab penyakit yang dialami oleh sang suami.

Allah tidak akan memberikan ujian suatu kaum melebihi kekuatan hambanya. Segala penyakit juga bisa sembuh atas seizinnya. Hendaklah sebagai istri dlam menghadapi ujian tersebut harap bersabar. Perceraian memang diperbolehkan dalam Islam, namn merupakan sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT, sehingga apabila masih bisa dipertahankan bahtera rumah tangga Anda akan dilindungi oleh Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Best Services from Our Business.