Home   Pojok Bugar dan Sehat   Cattenacio yang Nanggung, Mestinya Total Foot Ball di Balut Jogobonito

Cattenacio yang Nanggung, Mestinya Total Foot Ball di Balut Jogobonito

Menyaksikan pertandingan semifinasl Sea Games 2017 antara Indonesia dan Malaysia semalam saya tidak bisa menyembunyikan rasa sedih saya. Berangkat habis Isya’, saya bawa lengkap anggota keluarga saya menuju kawasan Nobar Bunderan Taman Kota Madiun dengan semangat dan harapan bisa lolos final dan jumpa Thailand. Foto selfie lengkap dengan suasana hiruk pikuk nonton bareng sudah saya share ke berbagai grup what’s app untuk berbagi semangat dengan pemain di lapangan menyongsong laga semifinal. Namun ternyata hasilnya diluar harapan…

Cattenacio yang Nanggung, Mestinya Total Foot Ball di Balut Jogobonito

Cattenacio yang Nanggung, Mestinya Total Foot Ball di Balut Jogobonito

Kalah 0-1 dari Malaysia pada menit-menit akhir cukup menyakitkan, namun ya sudahlah…saya anggap saja sebuah kemenangan yang tidak jadi. Namun yang perlu dicermati adalah gaya permainan yang berbeda dibanding timnas-timnas sebelumnya yang pernah saya tonton, baik level junior maupun senior. Bukan aliran bola cepat dari kaki ke kaki, pendek merapat, terobosan cepat dan terus berlari layaknya total football ala timnas Belanda atau jogobonito ala Brazil yang saya harapkan, namun justru permainan tenang, banyak berputar di barisan belakang, sambil sesekali melakukan penyerangan dari sayap umpan lambung ke depan mulut gawang.

Cattenacio yang Nanggung, Mestinya Total Foot Ball di Balut Jogobonito

Cattenacio yang Nanggung, Mestinya Total Foot Ball di Balut Jogobonito

Lantas saya mencari info stratgei seperti apa yang dijalankan Pelatih Luis Milla. Sekilas jika dilihat dari skema permainan, strategi ini mirip timnas Italy dengan Cattenacio (pertahanan gerendel) yang tangguh. Kemudian membuat alur serangan dari sayap kiri dan kanan ke arah depan mulut gawang menuju goal getter, Ezra Waliyan. Konsekuensi strategi ini membuat beberapa kali pertahanan timnas Indonesia di bombardir oleh lawan. Untungnya Malaysia juga tidak punya goal getter yang haus goal layaknya Thailand, sedangkan Timnas punya pertahanan yang cukup rapi di bawah komando kiper tangguh Satria Tama.

Kembali ke skema main cattenacio ala Italy yang cukup nanggung di peragakan timnas kita. Jika Italy bermain dengan pola pertahanan gerendel mereka punya barisan pertahanan dan pengumpan lambung yang cepat dan akurat seperti Paolo Maldini, dan striker flamboyan yang punya kecepatan dan naluri goal tinggi seperti Cristian Vieri. Penempatan bola yang akurat, walaupun tidak agresif dalam berlari, hampir selalu menempatkan Vieri sebagai goal getter walaupun hanya mendapatkan peluang yang terbatas. Jika di timnas, gaya bermain ini bisa kita jumpai pada seorang Eloco Gonzales. Sayangnya pemain naturalisasi ini sudah tak muda lagi.

Pada pertandingan semifinal 26 Agustus 2017 semalam, peran seperti Paolo Maldini yang biasanya diambil palang pintu tangguh Hansamu Yama, sayangnya tidak bisa bermain akibat akumulasi kartu kuning. Lebih sayang lagi goal getter yang bertumpu pada Ezra Waliyan tidak berjalan dengan baik. Kurang dalam naluri goal serta relatif lamban dalam akselerasi membuat beberapa peluang emas gagal membuahkan goal. Praktis beberapa umpan lambung dari sayap kiri maupun kanan dari Yabes dan Febri tidak bisa membuahkan goal.

Adalah Evan Dimas yang biasanya menampilkan skill permainan cantik ala Jogobonito Brazil juga bermain terlalu kebelakang dan kurang banyak membantu serangan. Bisa jadi ini efek dari strategi bermain ala catenacio tersebut.

Dilihat dari sejarahnya, Timnas Indonesia tidak pernah kekurangan striker handal yang punya kecepatan dan naluri tinggi, sejak jaman Rocky Putirai, Kurniawan DY maupun Boaz Solossa. Strategi yang cocok selama ini dengan karakteristik pemain bola kita adalah permainan cepat, pendek merapat dan mengandalkan kecepatan mirip Total Football ala Belanda, syukur kalo bisa di kombinasi dengan permainan cantik ala Jogobonito. Semoga pelatih timnas cepat adapatasi dengan karakter khas permainan Indonesia tersebut. Mister Luis Milla perlu lebih banyak lagi berburu pemain ke pelosok daerah untuk mencari talenta terbaik di negeri ini seperti yang dulu pernah dilakukan Indra Syafri. Ingat, skuad Indra Syafri pernah mengalahkan Korsel di kualifikasi Piala Asia U-19. Waktu itu, Eavn Dimas salah satu skuad yang ikut andil bermain agresif, pendek, cepat merapat, khas Indonesia yang menggulung Korsel 3-2 tahun 2013 silam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Best Services from Our Business.