Belajar Bisnis dari Kisah Siti Hajar

 

oleh : Rendy Saputra

Subscribe >> http://bit.ly/gabungkrbn

****

Atas tuntunan ilahi, Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan Ismail kecil di lembah tak bertuan. Sebuah tempat yang gersang, tempat dimana Allah menetapkan “rumahNya” tersejak zaman Adam ‘alaihissalam.

Dalam keridhoan ketetapan Suami yang tertuntun langit, Siti Hajar harus melalui episode yang menegangkan dalam hidupnya. Sebuah episode kehidupan yang diabadikan Allah dalam peribadatan sa’i saat umroh. Sebuah episode kehidupan yang menjadi titik awal lahirnya sebuah peradaban di lembah gersang.

Ismail kecil menangis keras kehausan ditengah gersang. Sebagaimana seorang Ibu, hati Siti Hajar kalut dibuatnya. Matanya mencari-cari disekitaran gurun, namun tak ada tanda-tanda adanya air sedikit pun.

Di kejauhan terlihat adanya air, berlarilah Siti Hajar ke tempat tersebut. Shaffa, itulah bukit yang Ia daki. Sesampainya di bukit tersebut, tak sedikit pun air ditemukan, dirinya berdoa dan memohon kepada Allah, lalu kemudian menebar pandangan kesegala arah.

Terlihat air dari kejauhan. Siti Hajar pun berlari ke bukit yang lain. Marwah, itulah nama bukit tersebut. Sesampainya di Marwah, Siti Hajar tidak juga mendapatkan apa yang beliau cari.

Siti Hajar kembali berfikir, mungkin di bukit yang tadi, ia tidak teliti, kembalilah ia kembali ke bukit shaffa. Lalu ke marwah, lalu kembali lagi ke shaffa, lalu ke marwah, lalu ke shaffa dan ke marwah untuk terakhir kali.

Sesampainya di Bukit Marwah tuk kesekian kalinya, terdengarlah gemiricik air dari dekat tubuh Ismail ‘alaihissalam. Hadirlah mata air Zam Zam, yang tidak hanya menghapus dahaga Ismail kecil, namun juga dinikmati oleh generasi berikutnya sepanjang lintas peradaban. Hingga saat ini, mata air tersebut deras mengalir. Seakan menyediakan pasokan bagi para peziarah. Tak ada habis-habisnya. Tak ada kering-keringnya.

Episode kehidupan ini diabadikan oleh Allah dalam tuntunan ibadah Umroh. Setelah melaksanakan Thawaf, jamaah Umroh diwajibkan untuk melakukan Sa’i, dan diakhiri dengan tahalul.

***

Ada beberapa pelajaran bisnis yang dapat kita petik dari kisah Siti Hajar. Kita dapat belajar bagaimana seharusnya kita berikhtiar menghadapi masalah. Siti Hajar telah melalui hal yang sangat membuat kalut dirinya dan akhirnya solusi hadir bukan hanya untuk Ismail, namun juga untuk generasi setelahnya.

Sama seperti bisnis, terkadang kita kalut ketika “bisnis kita menjerit menangis”. Terkadang kita harus berlari-lari mencari cashflow. Terkadang kita melihat kegersangan market yang tak berujung. Mirip situasinya dengan apa yang dialami Siti Hajar. Maka tidak ada salahnya ketika kita mencoba mengambil hikmah dari peristiwa tersebut.

Berikut beberapa pelajaran yang dapat kita ambil,

1. Sangka baik atas ketetapan Allah.

Sebelum kita memaknai usaha dari Siti Hajar, kita harus menyelami terlebih dahulu ruang hati beliau saat ditempatkan di lembah gersang. Beliau yakin, ini adalah ketetapan yang baik. Jika memang ini adalah ketetapan Allah, pasti baik. Walau secara kasat mata, beliau seakan ditinggalkan di lembah gersang tak bertuan.

Titik tolak sangka baik ini adalah energi dalam usaha Siti Hajar. Siti Hajar tidak marah kepada Ibrahim suaminya. Siti Hajar juga tidak kecewa dengan putusan Allah, mengapa Ia harus ditempatkan di lembah gersang. Fikiran dan hatinya tetap positif ke Allah. Allah pasti punya maksud dan pasti ada kebaikan pada keputusan ini.

Hari ini, mungkin sebagian Anda sedang mengalami kegersangan bisnis. Mungkin bisnis Anda sedang menjerit. Mungkin juga sebagian dari Anda sedang mengalami keterdesakan disana sini. Sebelum bergerak berusaha, alangkah baiknya kita cek hati kita, apakah ada marah di hati kita? Apakah hati kita sudah ridho atas apa yang terjadi hari ini? Apakah ada sangka baik di hati kita?

Banyak diantara kita yang berusaha dalam kemarahan, “seharusnya aku gak harus begini, kalo aku gak ketemu dia!”. Atau “aku kesel banget, gak perlu jadi begini kalo dia nurut sama aku!”. Atau “kok Allah tega banget ya, aku diginiin, apa salahku coba”.

Sangkal hati seperti diatas hanya akan membuat kita berputar-putar dalam labirin masalah. Sudah jatuh, tertimpa tangga, tertusuk paku. Sudah bermasalah, lalu kita marah kepada Allah. Repot.

Sahabatku, dengan penuh rasa empati, Saya tahu Anda kesal dan marah, tapi atas rasa sayang Saya kepada Anda, belajarlah dari Siti Hajar. Terimalah yang sudah terjadi, tatap masa depan, maafkan diri dan pihak-pihak terkait, lalu bergeraklah dengan lepas dan penuh energi positif di hati. InsyaAllah Anda akan menemukan Zam Zam Anda.

2. Berdoa, kemudian bergerak menunjukkan keyakinan.

Yang menarik dalam ibadah umroh, prosesi thawaf haruslah dalam keadaan wudhu, sedangkan tidak dengan proses Sa’i. Kode fiqh ini seakan menekankan aura “ikhtiar” didalam proses berlarinya Siti Hajar.

Apakah Siti Hajar tidak berdoa saat Ismail kecil kehausan? Ya pasti, dan rekam sejarah menunjukkan hal itu. Namun, apakah Siti Hajar berhenti di titik berdoa? Tidak sama sekali.

Siti Hajar berlari 7x track shaffa – marwah dan sebaliknya. Tidak satu atau dua. Namun 7x. Sebuah simbol ikhtiar yang tidak main-main. Menandakan usaha maksimal tanpa henti.

Sama seperti kisah Nabi Musa, jika keimanan dan amal hati saja cukup untuk menyelesaikan masalah, cukuplah keyakinan Musa bahwa Allah tidak meninggalkannya, harusnya lautan terbelah saat itu juga. Namun Allah memerintahkannya untuk memukul tongkat. Allah ingin melihat amal kita, aksi kita, perbuatan kita.

Demikian pula dengan Siti Hajar, beliau menunjukkan keseriusannya dalam membuktikan iman, bahwa pasti ada jalan keluar, maka dari itulah ia berlari.

Sahabat, aksikan yakinmu, aksikan doamu, aksikan rencana baikmu. Sekuat kamu bisa berlari, sebanyak apapun yang bisa kamu perbuat.

3. Tidak berhenti walau hasil tak terasa.

Pada awal-awal usaha pencariannya, Siti Hajar masih melibatkan fikiran logisnya, “mungkin Saya tidak teliti, Saya akan kembali lagi, siapa tahu ada air disana”.

Namun setelah usaha ke 4, ke 5 dan seterusnya, beberapa redaksi yang Saya baca (silakan didiskusikan jika berbeda pendapat), Siti Hajar hanya berlari, Ia hanya terus berlari, karena itulah yang ia bisa lakukan. Dari bukit satu, ke bukit yang lain, ia tidak lagi memikirkan, apakah ada atau tidak, ia hanya ingin bergerak mencarikan air untuk Ismail, ia hanya ingin menunjukkan kepada Allah bahwa ia terus bergerak. Ia tidak diam.

Sahabat, bisa jadi ada diantara kita yang pada hari ini sedang sangat kesulitan. Bisa jadi ada diantara kita yang sangat kebingungan. Usaha menawarkan produk hanya berujung gagal dan gagal. Seperti putaran proses yang tidak ada ujungnya. Dan sebagian diantara kita memutuskan untuk berhenti, sebelum keluarnya mata air “zam zam” yang kita cari.

Sahabat, Kolonel Sandres penemu bumbu KFC, harus menawarkan bumbunya ke 1000 lebih rumah, dan barulah diterima ke rumah yang ke-seribu sekian. Thomas Alfa Edison harus melakukan ribuan kali percobaan untuk menemukan lampu. Dan banyak lagi kisah konsisten diluar sana.

Sahabat, tidak ada hasil bukan berarti tidak ada progress. Seperti pohon bambu, dalam 3 tahun pertama, tidak ada pertumbuhan yang terlihat, tapi akarnya sedang bertumbuh kebawah, menghujam, menjadi pondasi. Setelah akar kokoh, barulah bambu tersebut melesat tumbuh.

Sama seperti kita hari ini, bisa jadi yang kita lakukan seperti jalan ditempat, tetapi disanalah Allah didik otot sabar kita, Allah didik otot syukur kita, Allah didik otot kerja kita. Sehingga Allah pantaskan kita untuk besar. Allah beri pondasi. Allah kader langsung. Ini yang jarang kita sadari.

Kembali ke poin bahasan, yuk terus jualan, ndak papa gak ada yang beli, bukan berarti gak ada hasil, ini proses agar Anda makin kuat. Jangan berhenti. Jangan melemah. Jangan pundung, mutung, merajuk.

4. Solusi yang hadir bisa saja tak berhubungan dengan ikhtiar.

Sahabat, tengok Siti Hajar, area pencarian airnya ada diantara shaffa dan marwah, tetapi air zam zam nya muncul di kaki Ismail didekat baitullah. Ya Rabb, tidakkah kita melihat kebesaran Allah.

Urusan kita itu bergerak, ndak usah pusing nanti “zam-zam” nya keluar dari mana. Jika ada jalan bergerak, jika ada jalan berikhtiar, bergerak saja. Sekiranya Allah sudah menilai kita bergerak maksimal, Allah sanggup keluarkan Zam Zam kehidupan kita, dari titik yang kita tidak sangka.

Banyak sebenarnya kita dengar cerita, sahabat kita menjual donat, bertemu dengan pelanggan yang menjual mobil, dan akhirnya mobilnya gak sengaja terjual di tangan penjual donat tersebut. Bayangkan teman, jual donat dan jual mobil itu jauh banget. Namun jika Allah berkehendak, jadi! Allah hanya butuh keseriusan Anda tuk terus berlari.

Maka, kalo memang pusing, bingung mikir jalan ikhtiar, ya bergerak saja. Ada kesempatan jadi relawan, yuk gabung. Ada kesempatan bantu teman jualan gorengan, ya sudah bantu. Ada diajak teman nemenin dia lihat peternakan, hayuk bergerak. Kita ini tidak pernah tahu dimanakah Zam Zam kita berada.

5. Yakinlah, ketika kesulitan itu teratasi, akan banyak orang yang kan mendapat manfaat.

Yang terakhir, agar kita termotivasi, marilah ingat dan yakini, bahwa Zam Zam yang akan memancar nanti di kehidupan kita itu, bukan hanya untuk menyelesaikan masalah kita saja, pasti ada manfaatnya bagi orang lain.

Ada sahabat Saya hutangnya 7,7M, sekarang sudah lunas. Karena usahanya yang gak berhenti-berhenti, akhirnya usaha produk digitalnya maju. Banyak affiliate yang dapat berkah. Karyawannya banyak. Mitra sinerginya banyak banget. Hampir semua orang yang bermitra dengan beliau dapat kecipratan zam zam nya. Alhamdulillah.

Jadi sahabatku, larimu hari ini bukanlah untuk dirimu saja. Sa’imu bukan hanya untuk dirimu saja. Tapi bisa jadi, sa’i mu hari ini bisa jadi sebab lahirnya bisnis yang bermanfaat dari generasi ke generasi. Jadi janganlah berhenti, besarkan jiwamu, tinggikan harapanmu. Peradaban sedang menunggu melesatnya bisnismu.

***

Sahabat, panjang ya tulisan ini, maaf panjang, karena Saya juga sedang Sa’i, usia-usia produktif seperti Saya dan sebagian Anda adalah usia Sa’i. Memang itulah tahapannya. sama dengan teman-teman semua..

Semoga Sa’i kita adalah Sa’i yang tulus ridho. Semoga ikhtiar kita ini dihitung Allah kebaikan. Semoga mata air zam zam kita sebentar lagi memancar. Aamiin. Ya Mujibassailin.

KR Business Notes
Kamis, 21 Februari 2019

****

Silakan forward tulisan ini ke linimasa Anda, atau sahabat terkasih Anda.

Bagi yang ingin berlangganan tulisan bisnis Kang Rendy, silakan klik —> http://bit.ly/gabungkrbn , terima kasih

Dapatkan video terbatas materi Kang Rendy dengan topik “Sustain dalam Bisnis” berdurasi 40 menit dengan klik bit.ly/SustainingBusiness

Jangan lupa untuk join FB Group kami di https://web.facebook.com/groups/185218565167664/

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*