Home   Pojok UMKM   Bagaimanakah Hukum Jual Beli Burung Berkicau Seperti Marak Belakangan Ini?

Bagaimanakah Hukum Jual Beli Burung Berkicau Seperti Marak Belakangan Ini?
Cara Menghasilkan Lovebird Euwing Blue Series (Bs), Euwing Blue Fiscery

Tren memelihara burung berkicau sepertinya semakin meningkat di tanah air belakangan. Terlebih bila seekor burung tersebut pintar berkicau, alih-alih punya gelar sering memenangi lomba yang diikutinya. Maka sudah pasti harga jualnya ikut terkerek.

Para “kicau mania” demikian para penggemar burung berkicau ini sering disebutkan, tak jarang sering juga sampai harus merogoh kocek dalam-dalam demi memboyong mahluk bersayap nan bersuara merdu ini. Sering pula, beberapa lebih memilih untuk membeli burung yang masih baru menetas, atau “bakalan”. Burung bakalan ini kemudian dirawat sekian waktu untuk kemudian dilatih agar bisa berkicau dengan optimal.

Dilansir dari _quora.com_, dimungkinkan untuk menjaga burung-burung cantik dan sejenisnya di dalam kandang, terutama jika itu adalah untuk tujuan menikmati atau mendengarkan suara mereka, namun tentu saja dengan syarat Anda merawatnya dengan biak, memberi mereka makanan dan minuman yang cukup.

Hobi yang demikian ini tentu saja, jadi peluang bisnis. Karenanya pasar burung seolah tak pernah mati setiap hari ada saja jenis burung baru yang naik kelas dan bisa ikut andil dalam kontestasi. Demikian juga dikalangan pebisnis, tentu saja ini adalah sebuah peluang jual beli baru.

Karena mengandung hubungan jual beli, dalam Islam tentu saja telah diatur tentang berbagai hal yang menyangkut boleh tidaknya sebuah hubungan jual beli itu terjadi. Berbagai komoditas telah diatur penerapannya, termasuk juga dengan burung ini sendiri. Lalu bagaimana kaidah jual beli burung berkicau yang marak belakangan ini? Adakah dalilnya?

Dalam urusan jual beli, yang menyangkut baik binatang atau juga benda lainnya, kaidah kemanfaatannya adalah kaidah yang diperhatikan oleh para ulama sebagai dasar hukumnya. Menurut para ulama,”semua yang boleh dimanfaatkan, boleh diperjualbelikan, kecuali jika ada dalil”.

Kaidah disini menyangkut benda yang boleh dimanfaatkan, dan ada 2 syarat benda tersebut boleh dimanfaatkan yaitu: benda tersebut ada manfaatnya, artinya, untuk jenis benda yang sama sekali tidak ada manfaatnya, tidak boleh diperjualbeilkan, sebagai contoh, kutu, atau serangga yang sama sekali tak mengandung manfaat bila dijual pada orang lain, dan benda tersebut manfaatnya mubah.

Sebagian besar ulama bersepakat, bahwa burung manfaatnya mubah. Ini karena seekor burung tidak dimiliki untuk dikonsumsi nilai dagingnya tentu tak sebanding dengan harga belinya. Memelihara burung utamanya adalah untuk kesenangan, atau hiasan semata.

Terdapat pula sebuah riwayat tentang hal ini, pernah pada suatu ketika Nabi shallallhu ‘alaihi wa salam bertemu dengan adik Sahabat Anas bin Malik yang bernama Abu Umair. Kala itu, Abu Umair sedang menangisi burung peliharaanya yang bernama Nughair. Saat itu pula Nabi shallallhu ‘alaihi wa salam  menyapa,_”Wahai Abu Umair, apa yang sedang terjadi dengan burungmu?”_**(HR. Bukhari no 6129, Abu Daud no 4971).**

Seterusnya, dalam riwayat itu Nabi shallallhu ‘alaihi wa salam membiarkan Abu Umair untuk tetap memelihara burung tersebut, juga bermain dengannya. Lewat sebuah riwayat ini, maka seterusnya burung termasuk benda yang halal untuk diperjual belikan.

Lain halnya jika sesuatu yang dilarang untuk dipelihara maka otomatis haram pula untuk memperdagangkannya. Sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, :_”Sesungguhnya ketika Allah mengharamkan sesuatu, Dia haramkan uang hasil penjualannya.”_**(HR. Ibn Abi Syaibah 20754).**

Dalam _Fataawa ‘Ulama’ al-Balad al-Haraam_ juga dijelaskan, saat Syaikh ‘Abd al-‘Azeez bin Baaz ditanya:_”Apa hukumnya orang yang mengumpulkan burung dan menyimpannya di kandang agar orang tersebut bisa menikmati kicau burung tersebut?”

Kemudian, Syaikh ‘Abd al-‘Azeez bin Baaz membalas: _”Tidak ada yang salah dengan itu, selama dia memberi mereka apa yang mereka butuhkan dari makanan dan minuman, karena prinsip dasar mengenai hal ini adalah yang diizinkan, dan tidak ada bukti yang bertentangan sejauh yang kita tahu. Dan Allah SWT adalah Sumber kekuatan.”_**Fataawa ‘Ulama’ al-Balad al-Haraam, hal. 1793.**

Jadi, jelaslah sudah bahwa memelihara dan jual beli burug berkicau termasuk perbuatan yang diperbolehkan sejauh mereka memperlakukan burung dan merawatnya dengan baik serta dalam transaksi jual beli mempertimbangkan ketentuan syariah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Best Services from Our Business.