Bagaimanakah Cara Taubat Dari Zina yang Dilakukan di Masa Lalu?

 

Alpa, berbuat salah, bahkan hingga terjerumus ke dalam dosa, adalah salah satu sifat manusia. Kesalahan dan kealpaan, yang mengiringi langkah-langkah hidup tak lain dan tak bukan adalah sebuah bukti kelemahan (dhaif), sebab memang kesempurnaan memang hanya milik Allah SWT.

Menyadari bahwa diri pribadi sebagai mahluk yang dhaif dan bisa saja berbuat salah, alpa bahkan dosa disampaikan para ulama sebagai salah satu obat menuju pribadi insan kamil. Yang bukan hanya sekedar menyesali kesalahan, namun mampu menuju sebuah pertaubatan yang hakiki, taubatan nasuha. Sesungguhnya Allah maha mengampuni dosa-dosa, mulai dari yang kecil hingga dosa yang berat.

Dari sekian banyak dosa, membunuh tanpa haq atau membunuh orang yang tidak bersalah dan tanpa alasan yang dibenarkan syari’at adalah dosa terberat. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Al-Quran, Surat Al-Isrâ`/17:33,”dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar”.

 

Lalu, selain dosa membunuh tanpa haq dosa apalagi yang termasuk dosa berat? Jawabnya adalah, Zina. Dilansir dari _al-islam.org_, seks pra-nikah benar-benar dilarang dalam Islam, tidak peduli apakah itu dengan teman perempuan atau pelacur. Seks pra-nikah adalah perzinahan (zina).

 

Zina juga merupakan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab. Orang yang paling rentan dalam hubungan semacam itu adalah wanita itu. Statistik dapat membuktikan bahwa pria sering menipu wanita yang tidak bersalah dalam seks pra-nikah.

 

Bahkan Allah SWT. Berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 32:_”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”._**(QS. Al-Isra:32).** Dari sini jelas, bahwa “zina adalah perbuatan keji yang sangat jelas keburukannya”_**(Tafsir Quraish Shihab).** Oleh karena mengandung keburukan-keburukan itulah, zina terlarang, sekaligus pelakunya terancam hukuman, baik di dunia maupun akhirat.

 

Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW, bersabda: _”Apabila seseorang berzina, maka iman keluar dari dirinya. Maka ia wajib menjaga diri (dari berbuat zina, dan apabila dia berhenti (dari berbuat zina) maka iman kembali kepadanya”._**(HR. Abu Dawud juz 4, hal 222, no. 4690).**

 

Begitu banyaknya larangan, serta ancaman perihal zina di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, jelas menyiratkan tentang betapa meruginya pelaku zina. Bukan hanya merugi di Akhirat, tetapi di Dunia pun seseorang yang melakukan dosa zina sudah pasti akan serta merta mendapatkan gunjingan, bahkan cemoohan dari orang lain.

 

Akan tetapi, Allah SWT Maha Pemaaf, dan Pemurah. Bahkan dosa terberat pun akan diampuni dan dimaafkan asal seseorang tersebut mau bertobat. Tentu saja taubatan nasuha, taubat yang semurni-murninya.

Menurut Imam Nawawi, ada tiga syarat sebuah tobat berciri taubatan nasuha, yaitu dengan cara: _meninggalkan segala bentuk perilaku yang berkaitan dengan dosa tersebut, menyesali segala perbuatan yang telah dilakukan, dan tidak mengulanginya lagi selamanya._

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:_”Penyesalan adalah hakekat taubat. (HR. Ahmad 3568, Ibn Majah 4252 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).”_ Penyesalan bisa dilakukan saat dia menyadari bahwa perbuatannya merupakan dosa besar, dan tentu saja, untuk bisa menyadari ini merupakan hidayah dari Allah SWT.

Mencari lingkungan yang baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT merupakan langkah selanjutnya. Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 114: _”Dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.”_**(QS. Hud: 114).**

 

Setelah bertaubat, aib yang terjadi di masa lalu rahasiakan karena membuka atau menceritakan aib kepada orang lain hanya akan menimbulkan masalah baru. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:_“Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.”_**(HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508).**

Allah Maha Pengampun lagi Penyayang, sepanjang orang tersebut mau ber-taubatan nasuha, maka bahkan untuk seorang pelaku zina sekalipun Allah pasti akan memaafkan dosa orang tersebut.

Wallahu a’lam Bishawab.

 

Random Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*