Home   Pojok Syariah   Bagaimana Syariah Memandang Transaksi dengan Bitcoin? Pahami Larangan Berikut Ini

Bagaimana Syariah Memandang Transaksi dengan Bitcoin? Pahami Larangan Berikut Ini

Bagaimana Syariah Memandang Transaksi dengan Bitcoin? Pahami Larangan Berikut Ini

 

Bitcoin adalah sistem kriptocurrency dan sistem pembayaran digital yang berlaku di seluruh dunia. Dilansir dari money.cnn.com, mata uang digital ini terdesentralisasi dimana sistem ini bekerja tanpa bank sentral atau administrator tunggal. Jaringan peer-to-peer dan transaksi terjadi antara pengguna secara langsung, tanpa perantara.

Dalam setiap transaksi, prosesi verifikasi dilakukan oleh node jaringan melalui penggunaan kriptografi dan dicatat dalam buku besar yang didistribusikan publik yang disebut blockchain. Bitcoin ditemukan oleh Satoshi Nakamoto dan dirilis sebagai perangkat lunak open source pada tahun 2009.

Dilansir dari bitcoin.org, bitcoin diciptakan sebagai hadiah untuk sebuah proses yang dikenal sebagai penambangan. Bitcoin dapat ditukar dengan mata uang lain. Penelitian yang dilakukan oleh University of Cambridge memperkirakan bahwa pada tahun 2017, ada 2,9 sampai 5,8 juta pengguna unik yang menggunakan dompet kriptografi, kebanyakan menggunakan bitcoin.

Bagaimana syariah memandang keberadaan transaksi dengan bitcoin ini? Bitcoin di dapatkan oleh para penambang (miners) melalui olah script untuk memecahkan algoritma tertentu dengan melakukan running script (olah data). Ada proses verifikasi data transaksi yang tersimpan dalam sebuah blok yang disebut blockchain. Jika verifikasi sukses penambang akan mendapatkan bitcoin.

Hahekatnya bitcoin bukan masuk kategori uang digital walaupun sudah digunakan di banyak negara khususnya Eropa. Tidak semua yang bisa digunakan transaksi, bisa disebut sebagai uang. Lebih tepatnya bitcoin dinyatakan sebagai properti digital yang dianggap bernilai oleh komunitasnya. Nilainya fluktuatif tergantung tren yang berlaku di komunitasnya.

Beberapa fakta terkait bitcoin adalah bahwa bitcoin tidak disepakati semua masyarakat. Bitcoin masuk kategori Cryptocurrency, yang tidak memiliki nilai intrinsik. Hal ini membuka peluang bagi siapapun untuk membuat sendiri mata uang yang berbeda dengan script yang berbeda pula. Hal ini pernah terjadi pada Litecoin (LTC), Ethereum (ETH), Zcash (ZEC) dan sebagainya dimana tren bisa berpindah, dari satu Cryptocurrency ke Cryptocurrency yang lain.

Bitcoin tidak stabil, dan tidak memiliki nilai ketahanan sama sekali bahkan sangat rentan untuk hilang nilai yang membuat Bitcoin bertentangan dengan karakter mata uang untuk acuan harga. Transaksi dengan bitcoin lebih cenderung mengandung unsur gharar yang dilarang dalam syariah Islam.

Dilansir dari investopedia.com, gharar adalah semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan atau keraguan tentang adanya komoditas yang menjadi objek akad, ketidakjelasan akibat, dan bahaya yang mengancam antara untung dan rugi.

Ghararnya bitcoin terletak pada ketidakpastian (untung-untungan) dimana keberhasilan investasi bitcoin sangat bergantung kepada takdir tren yang berlaku di komunitasnya. Selama mereka masih suka, harga bitcoin masih bisa dipertahankan. Ketika anggota komunitas mulai bosan, seketika akan hilang nilainya.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda yang artinya: “ Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli gharar”. (HR. Muslim 3881, Abu Daud 3378 dan yang lainnya).

Dilansir dari luno.com, Dr. Wilson salah seorang ahli keuangan syariah berpendapat bahwa umat Islam yang tertarik untuk mengetahui potensi dan keunggulan Bitcoin pertama-tama harus menyadari risikonya dan kerugiannya. Hal ini untuk menghindari transaksi yang masuk kategori gharar, konsep keuangan Islam untuk menggambarkan ‘pengambilan keputusan yang tidak diketahui, tidak pasti, dan berlebihan’, yang dilarang dalam Islam.

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW dalam sebuah hadits bersabda yang artinya: “Rasulullah Saw melarang jual beli al-hashah dan jual beli gharar”. Hal ini diperjelas dalam keterangan Syaikh As-Sa’di, yang mengungkapkan bahwa jual-beli gharar yang disebutkan di hadist Nabi di atas termasuk dalam katagori perjudian.

Dalam Kitab al-Mabsut dan al-Zaila‘ie, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa semua jual beli gharar seperti menjual burung di udara, onta dan budak yang kabur, buah-buahan sebelum tampak buahnya, dan jual beli al-hashaah, seluruhnya termasuk perjudian yang diharamkan Allah di dalam Al-Qur’an. Tabyiin al-Haqa‘iq dalam karyanya tersebut juga menyatakan bahwa yang dimaksud dengan gharar di hadist tersebut adalah “ jahalah ” (tidak maklum) tentang barang yang ditransaksikan.

Dengan melihat karakteristik bitcoin diatas, apalagi tanpa pengetahuan yang cukup dan hanya mengandalkan untung-untungna, maka sebaiknya transaksi dengan Cryptocurrency tersebut dihindari agar terhindar dari gharar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Get Best Services from Our Business.